Pengabdi Setan Sukses Besar, Pria Ini Malah Beri Review Buruk, 'Meniru dari Conjuring', Setuju Gak?
Awalnya dia kagum dengan seting film tersebut namun adegan demi adegan di film Pengabdi Setan banyak yang meniru film horor asing.
Penulis: Mohammad Rifan Aditya
Editor: Mohammad Rifan Aditya
Berikut review Randu yang ditulis pada Sabtu (21/10/2017):
"Datang ke bioskop tadi, saya melihat ada banyak sekali film horror yang akan tayang. Tapi karena sudah berniat untuk menonton Pengabdi Setan, saya memilih antre untuk film besutan Joko Anwar itu.
Yang pertama, saya harus memuji pemilihan seting: waktu dan tempat. Hampir sempurna. Rumah tua dengan nuansa kolonial Eropa-Jawa di dekat sebuah kuburan, di tahun 1981, tahun di mana seakan-akan dunia berwarna sephia polikromatik.
Setting ini harusnya berhasil dalam cerita horor apa saja, sayang sekali dalam Film Pengabdi Setan kayaknya gak begitu.
Pembukaannya udah meyakinkan. Saat si Ibu memanggil anak tertuanya untuk datang ke kamar. Di sana, si ibu berteriak-teriak dan melihat ke atas dan kamera kemudian bergoyang-goyang.
Sayangnya, mungkin karena sudah terlalu bertendensi untuk memberi rasa takut, alih-alih mencekam, scene itu hampa, karena penonton tidak diberi alasan kenapa hal itu terjadi.
Penonton hanya di-kagetkan sound (hal ini akan berulang di banyak adegan dalam film ini).
Kedua, ada banyak hak gak perlu dalam film ini yang memutus ketegangan.
Saya gak bilang bahwa film horror harusnya memang tegang terus, tetapi caranya memutus kayaknya gak pas.
Suspens harusnya bereskalasi menanjak gak peduli apapun intermezonya. Di film ini, bergelombang. Dengan banyak adegan yang sepertinya mengambil dari banyak sekali film-film edisi conjuring.
Ada banyak sekali adegan yang hanya ditopang oleh make-up dan musik untuk memberikan ketakutan.
Ada hal yang menarik.
Saya dulu menonton banyak sekali film horror di desa dan ustaz atau kiai desa selalu digambarkan sebagai seseorang kompeten dan kredibel dalam menangani segala macam hantu.
Biasanya hanya melempar tasbih atau ayat kursi (kadang-kadang juga dengan kursinya), setan selalu kepanasan dan akhirnya terbakar. Di film ini, pahlawan kita terlihat menyedihkan.
Di salah satu adegan bahkan dia menutup pintu dan membiarkan para anak-anak Ibu diteror hantu. Ustaz boleh gak kompeten, tetapi dia harusnya berani. Saya gak begitu kaget saat Ustaz desa tadi akhirnya tewas diserang zombie.
Di satu sisi, konsep lama tentang tentang kepercayaan pada kekuatan aspek-aspek dalam agama disepelekan dalam kisah ini. Ini hampir sebuah tren yang menjangkiti pembuat film horror lepas tahun 2000-an.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/review-buruk-pengabdi-setan_20171021_173750.jpg)