Kue Pernikahan Tradisional Selalu Tiga Tingkat, Bukan Karena Estetika, Ini Alasan Sebenarnya!
Kue yang kita nikmati saat ini merupakan hasil budaya pada awal abad ke-19.
Penulis: Mohammad Rifan Aditya
Editor: Delta Lidina Putri
Laporan Wartawan TribunStyle.com, Rifan Aditya
TRIBUNSTYLE.COM - Sebuah pernikahan bergaya barat akan lebih lengkap dengan kue pernikahan yang khas.
Saat ini telah banyak kue pernikahan dengan variasi dan tingkat yang banyak.
Kue ini tertutup lapisan gula putih dan atasnya diberi bunga dan patung-patung.
Tapi tahukah kalian kalau ide asli dari kue pernikahan itu hanya terdiri dari tiga tingkat.
Mungkin kamu berpikir tingkatan pada kue pengantin ini adalah murni karena estetika.
Ternyata bukan karena hal tersebut, masing-masing memiliki alasan tersendiri.
Melansir dari Mirror.co.uk (16/2/2017) sebuah kue pernikahan tradisional selalu terdiri dari tiga tingkat dan memiliki filosofi.
Kue pernikahan tradisional dengan tiga tingkat ini memiliki masing-masing filisofi.
Tingkat atas atau yang pertama akan disimpan untuk pembaptisan anak pertama.
Ini sering merupakan peristiwa yang diikuti segera setelah hari besar.
Tingkat paling bawah adalah untuk dimakan selama upacara pernikahan.
Namun saat ini, orang kadang-kadang memberikan tingkat tengah pada kue setelah acara sebagai terima kasih kepada para tamu.
Namun banyak yang masih mengikuti tradisi lama dan menyimpannya untuk ulang tahun pernikahan pertama.
Kue pernikahan pada abad pertengahan itu biasanya terbuat dari gandum.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/kue-pengantin_20170219_160927.jpg)