Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Virus Corona

JAWABAN WHO Saat Ditanya Kapan Pandemi Covid-19 Akan Berakhir, Apakah Varian Baru Akan Lahir Lagi?

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menjawab kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

TRIBUNSTYLE.COM - Pandemi Covid-19 kini sudah memasuki tahun ketiga sejak kemunculan pertamanya pada awal tahun 2020 lalu.

Sejauh ini, banyak negara-negara di dunia yang terpapar virus ini.

Virus ini pun juga memiliki kemampuan beranak-pinak hingga melahirkan varian-varian baru, mulai Alpha, Delta, Kappa, Lambda hingga yang terbaru Omicron.

Diberitakan kontan.co.id, memang cakupan vaksin yang tinggi di beberapa negara, dikombinasikan dengan tingkat keparahan varian Omicron yang lebih rendah, mendorong narasi berbahaya: pandemi telah berakhir.

"Tapi tidak, tidak (berakhir) ketika 70 ribu orang dalam seminggu meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dan diobati," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pidato di Konferensi Keamanan Munich, Jumat (18/2), yang salinannya Kontan.co.id peroleh.

"Tidak ketika 83 % populasi Afrika belum menerima vaksin dosis tunggal. Tidak ketika sistem kesehatan terus tegang dan retak di bawah beban kasus," tegasnya.

"Tidak ketika kita memiliki virus yang sangat menular yang beredar hampir tidak terkendali, dengan pengawasan yang terlalu sedikit untuk melacak evolusinya," imbuh dia.

Bisa mengakhiri pandemi sebagai darurat kesehatan global

Faktanya, menurut Tedros, kondisinya saat ini masih memungkinkan kemunculan varian baru virus corona yang lebih menular dan lebih berbahaya.

"Tetapi, kita bisa mengakhiri pandemi sebagai darurat kesehatan global tahun ini. Kita memiliki alatnya. Kita memiliki pengetahuan," ungkapnya. "Mengakhiri pandemi harus tetap menjadi fokus kita".

Tedros melihat, ada tiga pilar utama dari arsitektur global untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi.

Pertama, dunia membutuhkan pemerintahan yang lebih kuat. Alih-alih kebingungan dan inkoherensi yang telah memicu pandemi, dunia membutuhkan kerjasama dan kolaborasi dalam menghadapi ancaman bersama, yang bisa mengatasi defisit kepercayaan.

Kedua, dunia membutuhkan sistem dan alat yang lebih kuat untuk mencegah, mendeteksi, serta merespons epidemi dan pandemi dengan cepat.

"Sudah, WHO telah mengambil langkah-langkah untuk membangun beberapa sistem dan alat ini, termasuk Pusat WHO untuk Pandemi dan Epidemic Intelligence di Berlin, untuk meningkatkan pengawasan global melalui intelijen kolaboratif," sebut Tedros.

Halaman
1234