Viral Hari Ini

KISAH Pilu Orangtua Nekat Jual Anaknya yang Masih 9 Tahun di Afghanistan Demi Makan Keluarga

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Simak kisah pilu orangtua nekat jual anaknya yang masih 9 tahun di Afghanistan, dilakukan demi makan keluarga.

TRIBUNSTYLE.COM - Simak kisah pilu orangtua nekat jual anaknya yang masih 9 tahun di Afghanistan, dilakukan demi makan keluarga.

Nasib orang tiada yang tahu, seperti kisah pilu yang terjadi di Afghanistan ini.

Dilansir dari Kompas.com dari sebuah video laporan CNN, seorang ayah harus merelakan anaknya dijual demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Seorang ayah bernama Abdul Malik ini dilaporkan harus rela menikahkan putrinya yang berusia sembilan tahun sebagai calon pengantin.

Malik dan keluarganya yang harus rela tinggal di kamp pengungsi Afghanistan selama empat tahun ini hanya menerima $3 (Rp. 50 ribu) per hari untuk makanan saja.

Hal ini disebut terjadi setelah adanya pergantian kekuasaan di Afghanistan beberapa tahun terakhir.

Baca juga: BAK Kisah FTV, Wanita Ini Ceritakan Teman SMA Kini Jadi Ibu Tirinya, Pertemanan Seumur Hidup

Baca juga: Jusuf Kalla Tentang Taliban di Afghanistan, Tak Seperti Dua Puluh Tahun yang Lalu

Abdul Malik dan istrinya kehilangan harus kehilangan bantuan keuangan, dan pria itu memutuskan untuk melakukan hal ini.

Gadis ini harus direlakan keluarga kepada seorang pria berusia 55 tahun.

Abdul sebenarnya juga tak puas dengan penjualan itu, tetapi lalu menjelaskan bahwa dia tidak punya cara lain demi memenuhi kehidupannya sehari-hari.

Dia berharap keluarga baru akan memperlakukan anaknya ini dengan cinta dan membantunya membangun masa depan yang cerah.

Melansir Newsweek pada Rabu (3/11/2021), gadis bernama Parwana Malik ini dijual dengan harga sekitar 2.200 dollar AS (Rp 31 juta).

Kepada CNN, Malik mengatakan khawatir "lelaki tua" yang membelinya akan memukuli dan memaksanya melakukan pekerjaan kasar di rumah.

Terpaksa karena kebutuhan dan konflik Taliban dan Afghanistan 

Ketika ekonomi negara mereka runtuh di tengah pengambilalihan Taliban, keluarganya menjadi tidak mampu membeli kebutuhan apa pun termasuk makanan.

Halaman
123