Apakah Puasa Syawal Usai Idul Fitri 1442 H Harus Dikerjakan 6 Hari Berturut-turut? Ini Penjelasannya

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi puasa syawal.

TRIBUNSTYLE.COM - Umat Muslim akan segera menyambut Hari Raya Idul Fitri 1442 H.

Setelah berpuasa di bulan Ramadhan, biasanya umat Muslim akan menunaikan puasa di bulan Syawal.

Lantas, haruskah puasa syawal dilakukan dalam 6 hari berturut-turut? ini penjelasan Buya Yahya.

Puasa syawal merupakan puasa sunnah yang dikerjakan selama 6 hari di bulan Syawal.

Orang yang berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal setara dengan berpuasa selama setahun penuh.

Perintah melakukan puasa syawal disebutkan dalam hadits Abu Ayyub Al-Anshari r.a., Nabi Saw bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164).

Baca juga: LENGKAP! Ucapan Selamat Idul Fitri 2021 Bahasa Arab, Jawa, Indonesia & Inggris untuk Share di Medsos

Baca juga: Sholat Ied di Rumah? Ini Teks Khotbah Idul Fitri Bertema: Idul Fitri sebagai Awal Pembaharuan Diri

Puasa Syawal (Kolase TribunStyle.com/Freepik)

Seperti disebutkan dalam hadits tersebut, puasa syawal dilakukan selama 6 hari di bulan syawal.

Lalu, haruskah puasa ini dikerjakan secara berturut selama 6 hari, seperti pengerjaan puasa di bulan ramadhan ?

Dilansir TribunJakarta dari Bangkapos, dalam video berjudul Bolehkah Puasa Sunah Syawal Tidak Beurutan yang diunggah oleh kanal youtube Al-Bahjah Tv pada tanggal 9 April 2019, Buya Yahya sempat memberikan penjelasan terkait persoalan itu.

Menurut Mazhab Syafi'i, puasa syawal tidak harus dilakukan berturut-turut selama 6 hari.

"Menurut mazhab kita Imam Syafi'i, 6 itu tidak harus berurutan," ujar Buya Yahya.

Akan tetapi, ada sebagian ulama yang memakruhkan jika puasa syawal langsung dikerjakan setelah tanggal 1 Syawal.

"Bahkan sebagian ulama memakruhkan kalau langsung, syawal. Takut dianggap wajib. Ada sebagian ulama. Tapi mazhab kita tidak,"

"Sebagian ulama itu langsung, jangan tanggal 2 deh nanti aja ada akhir-akhir di belakang. Khawatir nanti dipikir orang wajib, Sehingga memberatkan orang," kata Buya Yahya.

Mengenai kapan waktu mulai untuk melaksanakan puasa Syawal, Buya Yahya menyampaikan bahwa pengerjaannya boleh dilakukan langsung setelah 1 syawal.

Boleh pula jika tidak dikerjakan langsung, mengikuti puasa ramadhan setelah tanggal 1 syawal.

Hal itu disampaikan oleh Buya Yahya dalam video lainnya, yaitu kajian Kitab Riyadusholihin tentang Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal yang diunggah oleh kanal youtube Al-Bahjah Tv pada tanggal 9 April 2019.

"jadi setelah tanggal , tanggal 1 tidak boleh berpuasa. Tanggal 1 syawal haram berpuasa. baru anda boleh memulai tanggal 2, 3, 4. Dan tidak harus langsung," ucap Buya Yahya.

Disampaikan oleh Buya Yahya, ada keutamaan yang diperoleh jika dikerjakan langsung, sesuai sabda Nabi Muhammad dalam hadis diatas.

"Memang yang bagus, yang bagus lagi kalau kita bisa mengikuti langsung, beriringan langsung," ujar Buya Yahya seperti dikutip dari Tribun Jakarta Haruskah Puasa Syawal Dilakukan 6 Hari Berturut-turut? Ini Kata Buya Yahya.

Keutamaan Menjalankan Puasa Syawal

Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah keutamaan melaksanakan puasa Syawal:

Puasa Syawal menutup kekurangan kita dalam menjalankan ibadah wajib di bulan Ramadhan.

Puasa Syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada bulan Ramadhan.

Sebab, pasti ada kekurangan yang dimiliki seseorang ketika menjalankan puasa Ramadhan.

Bagai puasa setahun

Dalam sebuah hadist riwayat Muslim nomor 1164 menyebut bahwa puasa Syawal selama 6 hari bagai puasa satu tahun lamanya.

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh."

Dijanjikan pahala 10 kali lipat bagi orang yang menjalankan puasa sunnah Syawal.

Hal itu dijelaskan dari hadist yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub yang berbunyi, "barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."

Orang yang melakukan puasa Syawal dijanjikan akan masuk surga bersama Rasulullah.

Hal ini karena orang tersebut telah menghidupkan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan At Tirmidzi menyebutkan bahwa, "siapa yang menghidupkan sunnahku maka sungguh ia mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku bersamaku di surga."

Puasa Syawal bisa dilaksanakan mulai tanggal 2 Syawal atau sehari setelah Idul Fitri, dan dilakukan selama enam hari.

Berikut adalah bacaan niat, tata cara dan ketentuan dalam melaksanakan Puasa Syawal:

Niat Puasa Syawal

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

"Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ."

Artinya: Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.

Jika lupa melafalkan niat di malam hari, untuk puasa sunah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Berikut bacaan niat jika melafalkannya di siang hari :

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

"Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ."

Artinya: Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT.

Tata Cara Puasa Syawal

Tata Cara puasa Syawal sama dengan tata cara puasa lainnya secara umum.

1. Melafalkan Niat

Jangan lupa berpuasa Syawal didasari dengan niat telebih dahulu.

2. Makan Sahur

Disunnahkan makan sahur sebelum terbit fajar.

Namun tidak makan sahur pun (misalnya terlambat bangun) tidak apa-apa, dalam artian puasa tetap sah.

3. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa

Saat berpuasa, hendaknya senantiasa untuk menahan diri dari makan, minum serta hal lain yang dapat membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, atau waktu Maghrib.

4. Berbuka Puasa

Disunnahkan menyegerakan berbuka puasa ketika matahari terbenam, yakni bersamaan dengan masuknya waktu Maghrib.

Ketentuan Melaksanakan Puasa Syawal

Dilansir dari berbagai sumber, puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, mulai tanggal 2 Syawal yakni sehari setelah Idul Fitri.

Mengenai ketentuannya, Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, Syawal'>puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan.

Dan tidaklah yang berurutan lebih utama daripada yang tidak berurutan.

Sedangkan menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, Syawal'>puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal.

Berdasarkan pendapat lain, yakni Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu mengatakan, puasa enam hari di bulan Syawal boleh dikerjakan secara terpisah-pisah atau tidak berurutan, tapi lebih afdal berurutan dan langsung setelah hari raya (dikerjakan tanggal 2 – 7 Syawal).

Jadi, tidak ada madzhab yang tidak memperbolehkan puasa ini di hari lain selain tanggal 2 sampai 7, yang penting masih berada di bulan Syawal.

Namun, hendaknya tidak berpuasa khusus di hari Jum’at tanpa mengiringinya dengan puasa di hari Kamis atau Sabtu karena adanya larangan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Para ulama menjelaskan bahwa larangan itu menegaskan makruhnya puasa di hari Jum’at tanpa mengiringinya dengan puasa di hari Kamis atau Sabtu.

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim juga memberikan keterangan bahwa yang paling baik untuk melakukan Syawal'>puasa Syawal adalah dilakukan secara berturut-turut. Namun jika pun tidak, maka hal itu tidak mengurangi keutamaan Syawal'>puasa Syawal.

“Para ulama madzhab Syafii mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah idul fitri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.”

(TRIBUNJAKARTA/BANGKAPOS)

#IdulFitri1442H #puasaSyawal