Berita Viral
Layani Banyak Majikan, TKW di Amerika Ini Dibayar Rp100 Juta per Bulan, Sehari Kerja 6 Jam
Inilah kisah Tatik Wuryanti alias Eva, wanita asal Ponorogo Jatim yang jadi TKW di Amerika Serikat. Ia bekerja jadi ART, raup Rp100 juta per bulan.
Penulis: Febriana Nur Insani
Editor: Febriana Nur Insani
TRIBUNSTYLE.COM - Bekerja di luar negeri menjadi pilihan bagi beberapa orang untuk mendapatkan gaji besar.
Hal itu pula yang dilakukan Tatik Wuryanti, seorang wanita asal Ponorogo, Jawa Timur.
Ia memutuskan merantau sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Amerika Serikat.
Di negeri Paman Sam, Tatik Wuryanti bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART).
Wanita yang akrab disapa Eva itu pun biasa menyedot debu hingga mengosek WC.
Meski begitu, Eva berpenghasilan cukup besar yakni mencapai Rp100 juta per bulan.
Dalam pengakuannya di YouTube VOA Indonesia, Eva mengaku sudah belasan tahun bekerja sebagai TKW di Amerika Serikat.
Ia membuka jasa bersih-bersih rumah. Pelanggannya pun mencapai belasan.
"Jadi tak rolling, gantian. Jadi misal Senin pagi aku di sini, sorenya di sana.
Selasa pagi di sini, Selasa sore orang lain lagi, Rabunya orang lain, sorenya orang lain lagi," terang Eva.
Saking banyaknya rumah yang harus dibersihkan, Eva bekerja 7 hari dalam seminggu.
Untuk rumah yang besar, ia biasanya membutuhkan waktu bersih-bersih sekitar 5 hingga 6 jam.
Eva mengawali harinya dengan membuat bekal di apartemen pribadinya daerah Rockville, Maryland.

Baca juga: Berawal dari Kerokan, Inilah Kisah Ciana TKW di Taiwan yang Sempat Dijodohkan dengan Saudara Majikan
"Aku setiap hari makannya masih makanan Indonesia, jadi masak sendiri," imbuhnya.
Dalam sehari, Eva biasanya membersihkan 2 rumah, terkadang juga 3 rumah.
Ia pun memakan bekal makan siangnya ketika dalam perjalanan dari rumah pertama ke rumah kedua.
Eva mengaku nyaman bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Ia juga menilai semua majikannya sangat baik, memperlakukannya seperti saudara.
"Pokoknya sama, udah kayak saudara. Enggak ada rasa 'kamu pembantu' gitu," papar Eva.
Eva mengaku bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp100 juta dari bekerja sebagai ART.
"Sorry bukannya sombong, ini kenyataan. Aku seminggu bisa mendapatkan 1650 (Rp26 juta) kadang-kadang 1700 dolar (Rp27 juta)," ungkap Eva.
Jika dirupiahkan, Eva bisa mendapatkan Rp100 juta per bulan.
Kisah Lainnya - Kisah TKI Purwokerto, 10 Tahun Merantau, Berhasil Sekolahkan Anak Jadi Jaksa: Sekarang Nggak Minder
MasyaAllah, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berhasil menyekolahkan ketiga anaknya dari hasil upahnya bekerja di negara orang.
Berkat keringatnya meski harus bekerja jauh dari rumah, TKI tersebut bahagia karena salah satu anaknya kini bisa menjadi jaksa.
Pekerja migran itu bernama Susmiati asal Desa Gumelar, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Seperti apa perjuangan Susmiati demi bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga kini ada yang menjadi jaksa?

Susmiati merupakan pekerja migran asal Desa Gumelar, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Perempuan kelahiran 1977 itu rela mengadu nasib ke tiga negara demi menyekolahkan ketiga anaknya.
Baca juga: HEBOH TKI Selingkuh di Taiwan, Kepergok Suami Sedang Berduaan dengan Bapak Kost, Baru Nikah 3 Bulan
Pada 2002, ia memulai perantauan ke Singapura, Hong Kong, hingga Taiwan.
Setelah kurang lebih 10 tahun, pada 2012 ia baru kembali ke pelukan anak-anak kesayangannya.
"Dulu anak pertama ditinggal dari kelas 3 SMP buat kerja ke Singapura, Hongkong, Taiwan, selama 10 tahun," tutur Susmiati kepada Kompas.com, Sabtu (17/6/2023) malam.
Ibu tiga anak itu menceritakan kisah pengorbanannya di perantauan dalam pementasan teater "Momen Larut Malam X Rasa Taiwan" di Soesmans Kantoor, Kota Lama Semarang.
Belasan penonton menyimak kisah sehari-hari Susmiati bekerja sebagai buruh, dan caranya tetap menjalin komunikasi dengan keluarga.

Ia memperagakan bagaimana anaknya yang selalu merindukannya dan memintanya untuk pulang.
Namun dirinya tetap kukuh dan saling menguatkan bila pengorbanan itu ia lakukan demi masa depan mereka yang lebih baik.
"Saya enggak pengen mereka cuma sekolah sampai SMP kaya saya. Saya harus mengambil keputusan besar agar masa depan mereka lebih baik," lanjutnya.
Sembari menyimak kisahnya, Trouble Team menyuguhkan sejumlah menu otentik Taiwan agar para penonton menyelami pengalaman Susmiati.
Mulai dari roti tawar dengan taburan butter. Lalu sesi kedua, bubur Taiwan dengan lauk irisan fermentasi rebung, mentimun, dan tahu Taiwan.
Baca juga: PILU TKI di Malaysia Disetrika oleh Majikan, Teriak Kesakitan hingga Tetangga Dengar, Nasibnya Miris
Kemudian Susmiati melanjutkan berbagi pengalamannya.
Saat anak pertamanya lulus SMA, ia sempat terkejut dengan keinginan sang putra untuk menempuh studi di jurusan Hukum.
"Pas lulus SMA dia bilang mau kuliah hukum, saya sempat ragu, kan di pikiran saya pekerjaan lulusan hukum kurang menjanjikan, tapi kemudian anak menjelaskan kalau ini yang dia inginkan dan dia bisa sukses nantinya," tuturnya.
Dengan membanting tulang di perantauan, perempuan itu pun menaruh harapan dan kepercayaan penuh pada cita-cita anaknya.
Ia terus menyemangati sang anak untuk studinya.
Dengan begitu anaknya tidak perlu minder dengan teman-temannya.
Meski anaknya memiliki ibu seorang pekerja migran, tapi sang anak tetap dapat sukses mewujudkan cita-cita.

Ia yakin peluh keringatnya akan berbuah manis dengan kegigihan sang anak sulung.
Terbukti, pada November 2017 anaknya lulus dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
"Abis lulus 2018 seleksi Pegagai Negeri Sipil (PNS). Dari 10.000 pendaftar dia masuk 400 besar dan Alhamdulillah keterima jadi jaksa. Mungkin dia satu-satunya jaksa di kampung saya," ungkapnya.
Susmiati mengaku sangat bangga dengan keberhasilan anaknya.
Meski tidak mendampingi tumbuh kembangnya secara langsung, tapi anaknya berhasil.
"Suatu kebangaan walau ibu seorang TKI, tapi anak bisa ngangkat derajat orangtua. Saya bangga anak bisa sampai titik itu. Anak juga bangga, sekarang enggak minder kalau anak TKI juga bisa jadi jaksa," lanjutnya.
Begitu diterima, pada dua tahun pertama anak sulungnya langsung ditugaskan di Tolitoli Sulawesi Tengah.
Baca juga: Tinggal Tulang Nasib Seorang TKI di Jepang, Ditemukan Dalam Koper Setelah 2 Tahun Menghilang
Kemudian dipindahtugaskan ke Tarakan, Kalimantan Utara dua tahun berikutnya.
Selanjutnya untuk hidangan pendamping pertunjukkan, penonton disuguhi sup ayam jamur dengan kuah kaldu ayam beraroma jahe.
Lalu ditutup dengan semangkuk kecil es cincau segar.
Menu itu cukup membawa penonton larut dalam kisah Susmiati.
Tema “Momen Larut Malam” itu sengaja dipilih untuk mendobrak kebiasaan orang Taiwan yang melarang sajian makanan saat pementasan teater.
Lebih lanjut, kini Susmiati masih harus menyekolahkan tiga anaknya. Anak bungsunya masih duduk di bangku kelas 1 SD, lalu kelas 5 SD, dan kelas 3 SMK.
Untuk itu, meski tidak lagi berusia muda, ia berencana kembali merantau ke luar negeri agar bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi.
"Iya ini kan itungannya saya eks pekerja migran, jadi memang bisa kembali sebelum 50 tahun," ujarnya.
Baca juga: HARU Uya Kuya Pulangkan 7 TKI Ilegal dari Malaysia, Salah Satunya Diantar ke Bondowoso: Kita Pulang
Selama ini ia mengaku beruntung mendapat majikan yang baik.
Ia bahkan dianggap seperti keluarga dan dicari saat telah berpindah kerja ke Taiwan.
Karena itu ia merasa pekerjaan lamanya patut dijalani lagi demi anaknya.
"Anak saya yang SKK kelas 3 itu cita-citanya jadi desainer busana, kalau gambar bagus-bagus sekali," imbuhnya.
Ia bertekad agar semua cita-cita anaknya bisa terwujud sampai akhir.
Suaminya pun mendukung niat baiknya tersebut.
Kini ia tengah bersiap untuk memulai kembali pada pekerjaan lamanya.
Susmiati, mengungkapkan apresiasi kepada sutradara Kun Ming Li, yang telah mengakat kisahnya dalam film pendek dan memberinya panggung untuk pertunjukkan teater.
Ia berharap para pekerja migran dapat lebih dihargai keluarga dan masyarakat.
Bukan dilihat sebagai bentuk mengabaikan anak karena mereka berkorban mempertaruhkan hidupnya demi keluarga bisa hidup lebih baik.
(TribunStyle.com/Febriana)( Kompas.com )
Sumber: TribunStyle.com
Viral Pemuda di Jepang Pacari Wanita 83 Tahun, Tak Masalah Beda Usia Jauh, Terungkap Awal Mula Kenal |
![]() |
---|
Kisah Wanita Jepang Pilih Tinggal di Rumah Penuh Sampah Usai Suami Wafat, Padahal Aset Melimpah |
![]() |
---|
Momen Bahagia Annisa Pohan Quality Time Bareng Keluarga di Jepang, Penampilan Almira Buat Salfok |
![]() |
---|
Sama-sama Cerdas, Anak Kembar di China Raih Skor Identik saat Ujian Masuk Kampus, Ortunya Bangga |
![]() |
---|
Pesona Memed Brewog Dijuluki 'Thomas Alva Edi Sound', Pelopor Sound Horeg, Kantung Mata Bikin Salfok |
![]() |
---|