Sejarah Hari Ini, Mengenang Tan Malaka, Pahlawan yang Tewas di Moncong Senjata Bangsanya Sendiri
Sejarah hari ini, mengenang sosok Tan Malaka, pahlawan berjuluk Bapak Republik yang meninggal 21 Februari 1949.
Penulis: Gigih Panggayuh Utomo
Editor: Delta Lidina Putri
TRIBUNSTYLE.COM - Sejarah hari ini, mengenang sosok Tan Malaka, pahlawan berjuluk Bapak Republik yang meninggal 21 Februari 1949.
Hari ini, tepat 74 tahun Sutan Ibrahim dengan gelar Datuk Tan Malaka meninggal dunia.
Mungkin tak banyak orang mengenalnya, seolah-olah dia terlupakan dan jarang dibahas dalam buku sejarah.
Namun, fakta mengatakan bahwa Tan Malaka adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
Dia bahkan dijuluki sebagai Bapak Republik karena tulisannya saat zaman kolonial menyiratkan gagasan soal negara Indonesia yang merdeka.
Ironinya, pahlawan itu tewas dieksekusi oleh bangsanya sendiri, tentara Indonesia.
Mari mengenal sosok Tan Malaka.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini sekilas profilnya.
Baca juga: Mengenang Nano Riantiarno, Wartawan dan Sastrawan Pendiri Teater Koma Meninggal di Usia 73 Tahun
Mengenang Tan Malaka
Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim.
Ia lahir di Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada 2 Juni 1897.
Sosoknya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
Nama Tan Malaka sendiri diambil dari gelar Datuk Sutan Malaka.
Gelar itu ia dapatkan dari garis keturunan ibunya yang semi-bangsawan.
Ayahnya bernama HM Rasad, seorang karyawan pertanian.
Sementara ibunya, Rangkayi Sinah, putri orang yang disegani di desa.
Desa tempat Tan Malaka lahir bernama Nagari Pandam Gadang, Suliki (kini termasuk Gunuang Omeh), Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Semasa kecil, Tan Malaka mempelajari pencak silat dan ilmu agama.
Mengenyam Pendidikan di Belanda
Pada 1913, Tan Malaka meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), Belanda.
Ia dapat pergi dengan bantuan dana oleh para engku dari desanya.
Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai muncul dan meningkat setelah membaca buku de Fransche Revolutie.
Setelah Revolusi Rusia pada Oktober 1917, ia mulai tertarik mempelajari paham Sosialisme dan Komunisme.
Tan Malaka lulus pada November 1919, dan menerima ijazah hulpactie.
Sepulangnya ke kampung halaman, Tan Malaka mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Deli, Sumatera Utara.
Ia mulai mengajar anak-anak itu berbahasa Melayu pada Januari 1920.
Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor.
Baca juga: Mengenang Pele Legenda Sepak Bola Brasil, Kini Bisa Bermain Bola Bersama Maradona di Surga
Bapak Republik Indonesia
Tan Malaka sempat menuliskan buku bertajuk Naar de Republiek Indonesia.
Isinya tentang konsep bangsa Indonesia dan perjuangan kemerdekaan Hindia Belanda dari kolonialisme.
Karena itulah, ia disebut sebagai Bapak Republik Indonesia.
Madilog dan Gerpolek, keduanya acapkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia pada masa itu.
Semasa hidupnya, Tan Malaka kerap menjadi buronan Belanda.
Oleh sebab itu, keberadaannya sangat misterius, dan kerap menyamar guna menyembunyikan identitas.
Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno, 28 Maret 1963, menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.
Meninggal di Moncong Senjata Tentara Indonesia
Tan Malaka sempat bersaing memperebutkan kekuasaan dengan Presiden Soekarno.
Akan tetapi, Soekarno berhasil mengunggulinya dengan membawa Soetan Sjahrir sebagai perdana menteri.
Karena itu ia dijebloskan ke dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun.
Tan Malaka meninggal di Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949.
Seorang sejarawan Belanda, Harry A Poeze, menyebut Tan Malaka tewas karena ditembak mati.
Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi mati oleh pasukan TNI di bawah pimpinan Letnan II Soekotjo.
Pada 21 Februari 2017, jenazah Tan Malaka secara simbolis dipindahkan dari Kediri ke Sumatera Barat.
(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/makam-tan-malaka.jpg)