Breaking News:

'SEKARANG Gak Bisa Tidur' Kisah Relawan Tragedi Stadion Kanjuruhan, Pilu Lihat Korban, Wajah Membiru

Achwan Affani, relawan yang bantu evakuasi para korban tragedi Stadion Kanjuruhan hingga kini tak bisa tidur. Ia teringat kondisi para korban.

TribunJatim.com/ Rifky Edgar
Achwan Affani relawan Malang Satria Es Teh Anget (kiri) bersama Dhana Setiawan, PSC 119 Kota Malang ceritakan momen saat mengevakuasi korban tragedi Stadion Kanjuruhan 

Korban-korban yang belum teridentifikasi itulah, yang kemudian dibawa menuju Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Sementara Babe dan Dhana, kemudian bergeser dari Rumah Sakit Wava Husada, menuju ke Rumah Sakit Teja Husada untuk mengevakuasi pasien lainnya.

"Di Teja Husada itu kami sempat syok melihat jenazah dibiarkan tergeletak di paving halaman rumah sakit. Sementara kondisinya di luar hujan," ucapnya.

Achwan Affani relawan Malang Satria Es Teh Anget (kiri) bersama Dhana Setiawan, PSC 119 Kota Malang ceritakan saat mengevakuasi korban tragedi Stadion Kanjuruhan
Achwan Affani relawan Malang Satria Es Teh Anget (kiri) bersama Dhana Setiawan, PSC 119 Kota Malang ceritakan saat mengevakuasi korban tragedi Stadion Kanjuruhan (TribunJatim.com/ Rifky Edgar)

Baca juga: Kisah Pedagang Nasi Goreng saat Tragedi Kanjuruhan, Pasrah Cari Anak, Buka Puluhan Kantong Jenazah

Di Rumah Sakit Teja Husada, mereka menghitung ada 34 jenazah yang belum dievakuasi.

Kemudian, mereka bergegas untuk membawa jenazah tersebut ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan Kabupaten Malang.

"Total dari kami yang berangkat dari Malang Kota itu ada enam ambulans. Jadi di sini kami langsung mengevakuasi jenazah, agar cepat tertangani. Kalau masalah pendataan, jujur kami lemah. Kami hanya fokus agar bagaimana jenazah ini tertangani," ujarnya.

Dari jenazah yang dievakuasi tersebut, hampir 70 persen kata Babe berusia di bawah 18 tahun.

Kondisi jenazah kebanyakan utuh, dengan wajahnya yang membiru.

Beberapa jenazah juga mengeluarkan busa di mulutnya.

Hal ini membuat babe syok, dan mengaku tak bisa tidur nyenyak pascainsiden tersebut.

"Sampai sekarang saya belum bisa tidur nyenyak. Gimana ya, saya sampai tidak bisa berkata-kata. Karena hampir 70 persen jenazah usianya di bawah 18 tahun, masih seusia anak-anak saya," ucapnya.

Melihat kondisi tersebut, para relawan ini hanya fokus untuk mengevakuasi para korban dengan cepat.

Salah satunya ialah membentuk sistem, agar proses evakuasi berjalan cepat sesuai dengan prosedur yang ada.

Potret tragedi di Stadion Kanjuruhan
Potret tragedi di Stadion Kanjuruhan (BolaSport.com)

Baca juga: Gelagat Tak Biasa Korban Kanjuruhan Sebelum Meninggal, Tiap Malam Kerap Minta Hal Ini, Ibunda Curiga

"Sistem yang kami bangun ini berusaha mengambil komando untuk satu pintu, agar mekanisme sebelum diberikan kepada keluarga atau dari Wava menuju ke faskes yang lebih tinggi ke RSUD dan RSSA, terkomando," ucap Dhana Setiawan dari PSC 119 Kota Malang.

Halaman
1234
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved