Breaking News:

Satu Suspek Cacar Monyet Monkeypox di Indonesia, Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes, Sudah Ada Vaksin?

Penyakit cacar monyet atau monkeypox sudah 1 suspek di Indonesia, Kemenkes dan BPOM sudah siap vaksin?

Editor: Dhimas Yanuar
Pixabay
Pasien suspek cacar monyet atau monkeypox di Jawa Tengah. 

TRIBUNSTYLE.COM - Satu suspek cacar monyet monkeypox di Indonesia, cek penjelasan lengkap kemenkes, sudah ada vaksin?

Satu suspek kasus penyakit monkeypox atau cacar monyet sudah ada di Indonesia. 

Namun sampai saat ini di Indonesia belum ada satupun vaksin cacar monyet yang mendapat izin edar BPOM.

Menyoal ini Ketua BPOM Penny K Lukito, menyebut, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan evaluasi pada vaksin cacar monyet, jika ada permintaan dari industri farmasi.

Baca juga: Warga Jawa Tengah Suspek Cacar Monyet atau Monkeypox, Cek Gejala hingga Cara Mencegah Penyebaran

"Jika ada industri yang akan mendaftarkan tentu BPOM terbuka untuk mengevaluasi dalam rangka memberikan izin edar penggunaanya," kata Penny saat dikonfirmasi, Rabu (3/8/2022).

Sebelummya, Ketua Satgas Monkeypox atau cacar monyet Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Hanny Nilasari SpKK mengaku, ada dua permintaan terkait vaksin cacar monyet dari kelompok gay.

Hanny mengatakan, mereka memiliki kekhawatiran dan merasa lebih berisiko terpapar cacar monyet, lantaran banyak kasus dilaporkan di dunia terjadi pada kelompok tersebut.

"Sudah ada dua orang yang menghubungi saya menanyakan vaksinasi sebelum mereka kemungkinan tertular, karena merasa sangat berisiko," katanya dalam webinar PB IDI, Selasa (2/8/2022).

Namun ia mengatakan, sampai saat ini belum ada satupun rekomendasi vaksin yang diterbitkan oleh Badan POM RI.

"Tetap diketahui vaksin monkeypox ini belum diapprove oleh BPOM RI, meskipun sudah ada rekomendasi dari CDC dan WHO," tambahnya

Satu Pasien Cacar Monyet Suspek di Jawa Tengah

Dilaporkan, satu orang warga di Jawa Tengah menjadi suspek penyakit endemik di benua Afrika ini.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohammad Syahril saat dihubungi terpisah mengatakan, seorang warga itu bukanlah pelaku perjalanan luar negeri atau PPLN.

"Seorang laki-laki, 55 tahun suspek monkeypox, bukan PPLN," kata dokter Syahril saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (3/8/2022).

Saat ini, pasien sedang menjalani isolasi di salah satu RS Swasta di Jateng, guna pemeriksaan lebih lanjut apakah benar kasus cacar monyet atau bukan.

Pendeteksian akan dilakukan melalui pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR).

"Akan dilakukan pemeriksaan lab PCR untuk memastikannya. Bisa saja hanya cacar biasa atau penyakit lain bukan monkeypox," imbuh dirut RSPI Sulianti Suroso ini.

Pasien suspek cacar monyet itu juga masih berada dalam pengecekan oleh Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes ke Dinas Kesehatan Jateng.

--

Penjelasan Kemenkes soal penyakit monkeypox atau cacar monyet

--

WHO secara resmi menetapkan penyakit monkeypox atau cacar monyet sebagai bahaya global.

Pun demikian dengan Kemenkes yang merilis himbauan gejala dan cara pencegahannya.

Penyakit cacar monyet adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui binatang.

Lesi berwarna ungu dan gejala seperti cacar air ditemukan di sejumlah kasus. -- Penjelasan mengenai monkeypox atau cacar monyet, berikut asal-usul, gejala awal dan cara penyebarannya.
Lesi berwarna ungu dan gejala seperti cacar air ditemukan di sejumlah kasus. -- Penjelasan mengenai monkeypox atau cacar monyet, berikut asal-usul, gejala awal dan cara penyebarannya. (Spanish General Council of Official Podiatrist)

Dikutip dari laman Kemenkes, penyakit cacar monyet pertama kali ditemukan pada 1958.

Kasus temuan cacar monyet itu berada di Denmark, ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga dinamakan 'monkeypox'.

Sedangkan untuk kasus pertama cacar monyet pada manusia (anak-anak) terjadi pada 1970.

Cacar monyet merupakan penyakit zoonosis, yaitu menular dari hewan kepada manusia.

Infeksi cacar monyet telah ditemukan pada banyak spesies hewan, di antaranya monyet, tikus Gambia, tupai, dan inang utama dari virus ini adalah rodent atau tikus.

Cara penularan cacar monyet melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau lesi kulit hewan yang terinfeksi, dan mengonsumsi daging hewan liar terkontaminasi.

Sedangkan penularan yang terjadi antar manusia melalui kontak dengan sekresi pernapasan, lesi kulit dari orang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi.

Masuknya virus cacar monyet dapat melalui kulit yang rusak, saluran pernapasan, atau selaput lendir mata, hidung, atau mulut.

Lalu apa tanda dan gejala dari penyakit cacar monyet?

Gejala penyakit cacar monyet pada manusia:

1. Fase prodromal atau fase awal selama 1-3 hari

Diawali dengan sakit kepala hebat dengan demam.

Terjadi pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati).

Limfadenopati dapat dirasakan di leher, ketiak atau selangkangan.

2. Fase erupsi atau fase kedua

Mulai muncul ruam atau lesi pada kulit.

Gejala itu dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap.

Ruam atau lesi berkembang menjadi bintik merah seperti cacar atau makulopapula

Bintik menjadi lepuh berisi cairan bening dan lepuh berisi nanah.

Kemudian mengeras atau keropeng lalu rontok.

Membutuhkan waktu 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok.

Cara mencegah terjadinya penyakit cacar monyet

1. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan dengan air dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.

2. Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi kontak langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

3. Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi, termasuk tempat tidur serta pakaian yang sudah dipakai penderita.

4. Menghindari kontak dengan hewan liar atau tidak mengkonsumsi daging yang diburu dari hewan liar.

5. Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit cacar monyet.

6. Bila memang terjadi segera memeriksakan diri, jika mengalami gejala seperi demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan.

7. Penderita dapat segera menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.

8. Petugas kesehatan dapat menggunakan sarung tangan, masker dan baju pelindung saat menangani pasien atau binatang yang sakit.

Menanggapi perkambangan penyakit cacar monyet saat ini, pemerintah melalui Kemenkes berupaya untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran cacar monyet di Indonesia.

Pada konferensi pers secara virtual di Jakarta, Juru Bicara Kemenkes, dr Mohammad Syahril, menyampaikan hingga saat ini belum ada laporan kasus cacar monyet di Indonesia.

Namun, pemerintah tetap berkomitmen untuk tetap melakukan tindakan preventif terhadap penyakit itu, melansir dari laman upk.kemenkes.go.id

Berikut adalah beberapa upaya yang saat ini tengah diberlakukan oleh pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran cacar monyet di Indonesia.

Baca juga: Apa Itu Monkeypox atau Cacar Monyet? Ini Penjelasan, Gejala, dan Penyebarannya

Upaya pemerintah mengantispasi penyakit cacar monyet di antaranya:

1. Memperbarui situasi dan frekuensi question (FAQ) terkait monkeypox yang dapat diunduh melalui https://infeksiemerging.kemkes.go.id/.

2. Mengeluarkan Surat Edaran NOMOR: HK.02.02/C/2752/2022 Tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Monkeypox di Negara non Endemis.

3. Melakukan revisi pedoman pencegahan dan pengendalian cacar monyet untuk menyesuaikan situasi dan informasi baru dari WHO.

Beberapa hal di atas, diharapkan mampu meminimalisir kemungkinan tersebarnya kasus cacar monyet di tengah masyarakat Indonesia.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Cacar Monyet atau Monkeypox: Penjelasan Kemenkes, Gejala, dan Upaya Pencegahannya

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Satu Pasien Cacar Monyet Suspek di Jawa Tengah, BPOM Bakal Beri Izin Edar Vaksin Monkeypox?

Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved