Breaking News:

Virus Corona

SEMAKIN Dipercaya, Sinovac Kini Dicari Sebagai Vaksin Booster Covid-19 di Singapura

Semakin dipercaya, Sinovac kini dicari sebagai vaksin booster Covid-19 di Singapura, ini kata dokter setempat.

Tribunnews/Jeprima
Semakin dipercaya, Sinovac kini dicari sebagai vaksin booster Covid-19 di Singapura, ini kata dokter setempat. 

Penolakan vaksin Sinovac ini berawal dari Jepang, Korea Utara, dan Korea Selatan.

Dilansir dari Tribunnews, (30/8/2021), Sejumlah Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang hendak ke Jepang dan Korea Selatan disuntik jenis Astrazeneca.

Pasalnya, vaksin tersebut diberikan menyusul penyesuaian dengan standarisasi jenis vaksin yang digunakan oleh para negara penempatan tersebut.

Sebagian besar dari negara penempatan diketahui tidak menerima atau menolak vaksin jenis Sinovac yang umum digunakan di Indonesia.

Namun ada angin segar bagi berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menggunakan vaksin Covid-19 Sinovac sebagai vaksin pertama.

Meski begitu, hal ini tak mengurangi hasil vaksin lain, termasuk dari Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca yang menunjukkan tingkat perlindungan yang lebih baik.

Sinovac sendiri hingga kini masih diawasi terkait efektivitasnya melawan Covid-19.

Hal ini menyusul laporan infeksi di antara petugas tenaga kesehatan yang sudah diimunisasi penuh dengan suntikan Sinovac di Indonesia dan Thailand.

Studi yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia ini menemukan bahwa 0,011% dari sekitar 7,2 juta penerima suntikan Sinovac memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU) untuk infeksi Covid-19, kata pejabat kesehatan kepada wartawan, Kamis (24/9/2021).

Sebaliknya, 0,002% dari sekitar 6,5 juta penerima vaksin Pfizer/BioNTech membutuhkan perawatan ICU untuk infeksi Covid-19, sementara 0,001% dari 744.958 penerima vaksin AstraZeneca membutuhkan perawatan serupa.

Kalaiarasu Peariasamy, direktur di Institute for Clinical Research Malaysia yang melakukan penelitian bersama dengan gugus tugas Covid-19 nasional, mengatakan vaksinasi - terlepas dari mereknya - telah mengurangi risiko seseorang untuk dirawat di ruang perawatan intensif sebesar 83% dan menurunkan risiko kematian sebesar 88%.

Hasil tersebut didapat berdasarkan penelitian yang lebih kecil yang melibatkan sekitar 1,26 juta orang.

"Tingkat terobosan untuk penerimaan unit perawatan intensif sangat rendah," katanya.

Dia menambahkan, perawatan ICU secara keseluruhan di antara individu yang sudah divaksinasi penuh mencapai 0,0066%.

Halaman
1234
Sumber: TribunStyle.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved