Breaking News:

Viral Hari Ini

KISAH Pilu Guru Honorer Lansia Puluhan Tahun Mengabdi Tak Lolos PPPK, Nilai Lulus Kelewat Tinggi

Viral kisah pilu guru honorer lansia 50 tahun mengabdi tak lulus ujian PPPK, BKN dan Menteri Nadiem banjir kritikan.

TRIBUN MEDAN/ANISA RAHMADANI dan Facebook: Eva M Sinaga
Kisah guru honorer puluhan tahun mengabdi tak lolos ujian PPPK. 

Penulis: Dhimas Yanuar

TRIBUNSTYLE.COM - Viral kisah pilu guru honorer lansia 50 tahun mengabdi tak lulus ujian PPPK, BKN dan Menteri Nadiem banjir kritikan

Dalam beberapa minggu ke depan, akan banyak tes CPNS dan PPPK yang akan diselenggarakan BKN dan Kementerian di Indonesia.

Namun terdengar kisah miris dari para guru honorer dan guru tidak tetap yang sudah mengabdi lama yang mengikuti tes PPPK.

Curhatan para guru honorer, guru tidak tetap, dan beberapa pengawas ujian PPPK ini sudah banyak beredar di media sosial dan media berita.

Baca juga: LENGKAP Cara Cek Jadwal dan Titik Lokasi Tes SKD PPPK & CPNS 2021, Login di sscasn.bkn.go.id

Baca juga: VIRAL 4 Bulan Menikah Istri Meninggal, Suami Pakai Baju Pernikahan Antar Jenazah ke Pemakaman

Curhat viral guru honorer tak lulus ujian PPPK.
Curhat viral guru honorer tak lulus ujian PPPK. (Facebook/ Eva M Sinaga)

Seperti curhatan satu ini di Twitter, Jumat (17/9/2021).

Akun tersebut menuliskan:

"Curhat peserta PPPK."

"Untuk apa menguji kami honorer, apalagi bagi kami yang sudah diatas 45 th, kalau hanya sekedar membesarkan hati kami saja, sementara yang soal yang kami kerjakan tidak sesuai dengan pekerjaan yang kami lakukan disekolah,"

".... Drama kami mengikuti p3k."

"Dari kampung naik mobil kurang lebih 2 jam. Menuju pelabuhan yg dimana nanti kami naik kendaraan air speed boat kurang lebih 4 jam"

Kisah pilu ini pada awalnya diunggah di Facebook Eva M Sinaga pada (15/9/2021).

Dalam curhatannya itu mengisahkan seorang guru honorer yang mengikuti tes PPPK di kota.

Dalam lanjutannya, bahkan ia bertemu dengan muridnya yang kini sudah menjadi PNS dan pengawas tes PPPK.

Di kala sang guru tes dan ingin lulus PPPK, yang belum tentu seorang PNS.

Di akhir penulis mencurahkan bahwa passing grade atau nilai kelulusan bagi para guru honorer ini kelewat susah dan tinggi.

Bahkan ia mengkritik kebijakan tes PPPK bagi para pengabdi yang sudah puluhan tahun mengajar itu.

Ada lagi curhat dari pengguna Facebook lain, Mike Riana, (17/9/2021).

Surat tersbuka ini menceritakan kisah pilu yang dialami seorang guru laki-laki dengan usia senjanya yang tetap semangat mengabdi dengan memberikan pendidikan bagi para siswa.

Dalam surat tersebut guru laki-laki tua menerima gaji tidak lebih dari 500 ribu rupiah.

Bahkan hal ini mengharuskannya mencari penghasilan tambahan dengan bekerja serabutan karena tidak cukup untuk kebutuhan keluarga.

"Gaji di bawah lima ratus ribu sungguh tak cukup untuk makan sebulan."

"Apalagi untuk membeli sepatu," kata Novia Khassifa.

Dikatakan bahwa guru tersebut pernah mengikuti Program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang diadakan Kemendikbud.

Namun, nasib berkata lain, ia gagal mengikuti tes PPPK karena tidak lolos.

Dia mengungkapkan bahwa guru tersebut tampak kesulitan ketika mengikuti tes online yang menggunakan perangkat komputer.

"Soal-soal yang Mas Menteri berikan hanya teori saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya," katanya.

Ia menyebutkan bahwa soal ujian PPPK membuat dirinya kesulitan ketika menggunakan mouse sehingga menyebabkan kepalanya pusing.

Peserta ujian seleksi PPPK Kota Medan mengerjakan soal di SMK Negeri 10 Medan.
Peserta ujian seleksi PPPK Kota Medan mengerjakan soal di SMK Negeri 10 Medan. (TRIBUN MEDAN/ANISA RAHMADANI)

Benarkan nilai passing grade yang terlalu tinggi

Ketua Forum Honorer Indonesia (FHI) Kota Medan Fahrul Lubis memprediksi target Pemko untuk merekrut 1.200 orang guru melalui ujian Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada tahun ini tidak akan tercapai. 

Prediksi ini berdasarkan banyaknya keluhan dari peserta PPPK yang menyebutkan bahwa nilai ambang batas (passing grade) yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi.

"Nilai passing grade (PPPK) melebihi ujian CPNS."

"Mereka baru bisa lulus dengan nilai minimal 500."

"Sementara beberapa hari ini saya mendapat laporan bahwa yang mengikuti ujian kebanyakan mendapat nilai di bawah 400. Paling tinggi 420," katanya, Kamis (16/9/2021). 

Fahrul Lubis mengaku prihatin dengan nasib para guru honorer yang tidak lulus tes PPP3 Pemko Medan tahun ini.

"Saat pemerintah kekurangan tenaga pendidik, mereka para honor yang maju turut mencerdaskan anak bangsa."

"Tapi kenapa sulit sekali untuk mengangkat para honor yang telah bekerja bertahun-tahun?" paparnya. 

Ia pun menduga target Pemko Medan merekrut 1.200 orang berstatus PPPK tidak akan tercapai, meski ia mendapat kabar bahwa guru honorer yang tidak lulus masih bisa mengikuti ujian pada tahun berikutnya.

"Saya pesimis target 1.200 guru bisa terpenuhi tahun ini karena hasil tes kompetensi teknis jauh di bawah rata-rata," paparnya.

Padahal, kata Fahrul, seandainya semua peserta ujian PPPK yang berjumlah 2.227 orang lulus, kekurangan guru di Kota Medan sebenarnya belum juga terpenuhi.

"Itu analisis saya, dan itu belum memperhitungkan guru yang masuk masa pensiun setiap hari. Jadi jumlah kekurangannya terus bertambah," tuturnya.

Mewakili para guru honorer, ia berharap kepada pemerintah untuk menurunkan nilai ambang batas pada ujian berikutnya.

"Kami meminta kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan penurunan passing grade karena sebelumnya pemerintah juga pernah mengeluarkan PermenpanRB Nomor 61 Tahun 2018 tentang Optimalisasi Pemenuhan Kebutuhan/Formasi Pegawai Negeri Sipil Dalam Seleksi CPNS Tahun 2018," paparnya. (cr5/tribun-medan.com)

(*)

(Tribunstyle/Dhimas)

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Guru Honorer di Medan Mengeluh, Nilai Ambang Batas Ujian P3K Dinilai Terlalu Tinggi

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved