Breaking News:

Trending Hari Ini

MIRIS Belasan Ribu Anak Indonesia Kehilangan Orangtua Karena Pandemi Covid-19 Selama 2 Tahun Ini

Akibat pandemi Covid-19 selama hampir 2 tahun, belasan ribu anak Indonesia kehilangan orang tuanya.

Editor: Dhimas Yanuar
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
(Ilustrasi) Akibat pandemi Covid-19 selama hampir 2 tahun, belasan ribu anak Indonesia kehilangan orang tuanya. 

TRIBUNSTYLE.COM - Pandemi Covid-19 yang melanda di Indonesia, tak hanya melulu soal ekonomi.

Nyawa pun dapat melayang akibat virus tersebut.

Korbannya pun tak memandang usia. Orang dewasa, remaja, hingga anak-anak.

Selama 1,5 tahun pandemi Covid-19 berlangsung, terdapat belasan ribu anak-anak menjadi yatim-piatu.

Dikutip dari Tribunnews.com, belasan ribu anak-anak kehilangan orang tuanya dan menjadi yatim piatu akibat terinfeksi virus ini.

Baca juga: Inggris Tak Rekomendasikan Vaksin Covid-19 untuk Anak Usia 12-15 Tahun, Disebut Masih Rentan

Baca juga: China Batasi Anak-anak Main Game HP & PC Seminggu Hanya 3 Jam, Apakah Indonesia Harus Mengikuti?

VAKSINASI PELAJAR - Ribuan pelajar dari jenjang SMP dan SMA antri dengan tertib untuk mendapatkan suntikan vaksin Pfizer yang digelar Pemkot Tangerang, Rabu (1/9/2021). Mereka sangat antusias mengikuti vaksinasi dosis pertama ini, yang jumlahnya mencapai 8.632 pelajar dari total 16 ribu pelajar.
VAKSINASI PELAJAR - Ribuan pelajar dari jenjang SMP dan SMA antri dengan tertib untuk mendapatkan suntikan vaksin Pfizer yang digelar Pemkot Tangerang, Rabu (1/9/2021). Mereka sangat antusias mengikuti vaksinasi dosis pertama ini, yang jumlahnya mencapai 8.632 pelajar dari total 16 ribu pelajar. (WARTA KOTA/NUR ICHSAN)

Menurut Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander Kaliaga Ginting, ada sekitar 13.500 anak yang kehilangan ayah atau ibunya yang meninggal karena terpapar Covid-19.

Alexander mengatakan, persentase kematian nasional akibat Covid-19 terbilang tinggi, yakni mencapai 3,5 persen.

"Dari risiko kematian kita cukup tinggi di atas 3,5 persen. Kemudian juga dari laporan berbagai institusi bahwa jumlah anak yang kehilangan salah satu orang tua atau ibu atau ayah itu lebih kurang 13.500," kata Alex dalam dialog virtual bertajuk 'Strategi Isolasi Terpusat Minimalisir Fatalitas Akibat Covid-19' yang disiarkan YouTube BNPB, Kamis (2/9/2021).

Alex menyebut, tak sedikit pula di antara belasan ribu anak tersebut yang kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.

Hal ini disebabkan karena klaster keluarga yang terbentuk akibat tak segera dilakukannya isolasi di tempat isolasi terpusat.

"Di antara mereka dan yang kehilangan keduanya, ayahnya meninggal, ibunya juga meninggal. Dan kalau kita baca laporan tersebut bahwa semua ini karena dampak klaster keluarga dan penularan ini bisa dari ibunya, bisa dari ayahnya," tambah Alex.

Jika terdapat anggota keluarga sudah terdeteksi positif corona dan kondisi di rumah tidak memadai untuk isolasi mandiri (isoman), maka sebaiknya segera dirujuk ke isolasi terpusat agar klaster keluarga tidak melebar.

"Karena jika isoman apabila rumahnya tidak memadai, ini salah satu yang berpotensi naiknya klaster keluarga sehingga tak heran jika 1 wilayah kasus tinggi karena penularan dari isoman," katanya.

Apabila masyarakat dinyatakan positif corona, maka pemerintah menganjurkan untuk menjalani isolasi di tempat isolasi terpadu (isoter) dibanding dengan isolasi mandiri (isoman) di kediaman masing-masing.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved