Breaking News:

Pandemi

BADAI SITOKIN Jadi Gejala Paling Bahaya bagi Pasien Covid-19, Inilah Proses Terbentuknya di Tubuh

Badai Sitokin dianggap masyarakat sebagai gejala yang berbahaya, apa alasannya?

Editor: Delta Lidina Putri
freepik
Badai Sitokin dianggap masyarakat sebagai gejala yang berbahaya, apa alasannya? 

TRIBUNSTYLE.COM - Badai Sitokin dianggap masyarakat sebagai gejala yang berbahaya, apa alasannya?

Kabar mengejutan diungkap presenter yang juga mentalis Deddy Corbuzier.

Dimana ia mengaku hampir meninggal dunia karena mengalami Badai Sitokin akibat terpapar virus corona (Covid-19).

"Saya sakit.. Kritis, hampir meninggal karena badai Cytokine, lucunya dengan keadaan sudah negatif. Yes it's covid," tuturnya lewat unggahan di akun Intagram @mastercorbuzier (22/8/2021).

Deddy Corbuzier
Deddy Corbuzier curhat pernah kritis karena badai sitokin (Instagram/ mastercorbuzier)

Baca juga: Kenali Gejala-gejalanya, Badai Sitokin & Autoimun Sangat Berbahaya Bagi Pasien Covid-19

Baca juga: KENALI Badai Sitokin yang Sempat Menyerang Raditya Oloan, Gejalanya dari Kelelahan Hingga Nyeri Dada

Melihat unggahan Deddy Corbuzier tersebut, alhasil tak sedikit masyarakat yang bertanya mengapa Badai Sitokin begitu mematikan, terutama pada pasien Covid-19.

Terkait Badai Sitokin yang mematikan inipun sempat dijelaskan Penanggungjawab Logistik dan Perbekalan Farmasi RSUP Dr. Kariadi Semarang, Mahirsyah Wellyan TWH., S.Si., Apt., Msc.,.

Dimana menurut Mahirsyah Badai Sitokin atau cytokine strom merupakan reaksi berlebih sistem kekebalan tubuh.

Pada kasus Covid-19, paparan virus corona yang masuk ke tubuh membuat sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin, yakni protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi penting dalam penanda sinyal sel.

Sitokin tersebut lalu bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berikatan dengan reseptor sel tersebut untuk memicu reaksi peradangan.

“Pada kasus Covid-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru-paru untuk melindunginya dari serangan SARS-CoV-2,” jelas Mahirsyah dilansir dari Kompas.com (16/5/2020).

Halaman
12
Sumber: Grid.ID
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved