Breaking News:

KISAH Mantan Tukang Becak, Kaya Raya Jadi Juragan Cilok, Punya 3 Apartemen & 13 Rumah Kontrakan

Inilah kisah Harsono, mantan tukang becak yang kini sukses jadi miliader. Punya 3 apartemen dan 13 rumah kontrakan.

Editor: Monalisa
Kompas.com/Bagus Supriadi
Harsana, mantan tukang becak yang kini jadi juragan cilok yang kaya raya 

Karena mendapat dorongan dari istri untuk bersabar, Harsono kembali menjual cilok secara keliling.

Perjuangan Harsono berjualan cilok secara keliling selama lima tahun membuahkan hasil.

Nama Cilok Edy mulai dikenal masyarakat.

Wali murid yang awalnya tak mau membeli, kini mulai ketagihan karena memiliki rasa yang berbeda.

Harsono semakin semangat, setiap pagi dia menjual cilok di SD, kemudian siang hari jam 13.00 berjualan di SMP, lalu sore hari berkeliling di daerah perkotaan, seperti alun-alun Jember.

Selama lima tahun berkeliling, permintaan Cilok Edy semakin banyak.

Dulu, daging sapi yang digiling untuk bahan cilok hanya sekitar 1,5 kilogram. Namun sekarang sudah sampai 25 kilogram daging setiap harinya.

“Tapi sekarang dicampur dengan daging ayam, karena daging sapi cukup mahal,” papar dia.

Sekitar tahun 2000, Harsono memasang telepon rumah.

Ketika cilok yang dijual sudah habis, Harsono tinggal menelpon istrinya untuk membuat lagi.

“Tahun 2000-an itu mulai dikenal, hingga ambil tenaga orang lain karena sudah tidak nutut,” terang dia.

Nama Cilok Edy mulai naik daun di kalangan warga perkotaan. Nama itu dipilih karena mudah diingat, meskipun tidak ada sangkut paut dengan dirinya.

Saat itu, Harsono hanya memiliki satu rombong keliling untuk menjual cilok. Dirinya ingin menambah armada, namun tidak memiliki modal.

Akhirnya dia memberanikan diri mengajukan kredit uang ke perbankan senilai Rp 15 juta.

Uang itu digunakan untuk membeli rombong Cilok Edy hingga memiliki lima rombong.

Uang itu terus diputar untuk nenambah rombong samapi memiliki sepuluh rombong.

Tak hanya itu, permintaan untuk membuka cabang Cilok Edy terus berdatangan dari Probolinggo, Bondowoso dan Lumajang.

Hanya saja, cabang yang ada di luar kota tidak bertahan lama karena ada kecurangan dari pegawainya.

“Buka di luar kota, cuma penjaganya curang,” ujar dia.

Akhirnya ditarik dan tidak ada cabang di luar kota lagi.

Harsono mengatakan tantangan yang dihadapi yakni semakin banyak penjual cilok.

Untuk itu, dia semakin meningkatkan cita rasa cilok.

Siti Fatimah selalu mengawasi proses pembuatan cilok agar mutunya tidak berubah.

Baca juga: BLAK-BLAKAN Femmy Permatasari Dinikahi Pengusaha Kaya Raya: Gak Usah Kerja Tapi Bisa Hidup Enak

Mulai dari rasa, besar kecilnya cilok dan lainnya.

Selain itu, juga mengatur keuangan yang diperoleh dari dari penjualan cilok.

“Pandemi Covid-19 juga pengaruh, pembeli yang mayoritas mahasiswa jadi berkurang,” jelas dia.

Putar uang untuk investasi

Uang dari hasil penjualan cilok tak ditabung oleh Harsono dan istrinya.

Namun, ia menggunakan uang itu untuk investasi.

Seperti membeli rumah untuk dijadikan rumah kontrakan dan rumah kos.

Selain itu, juga digunakan untuk membeli sawah hingga apartemen.

“Sekarang apartemen punya tiga untuk disewakan, rumah ada 13 untuk dikontrakkan dan dikoskan,” jelas Harsono, dikutip dari Kompas.com, Kisah Harsono, Sukses Jual Cilok hingga Punya 3 Apartemen dan 13 Rumah Kontrakan.

Caranya, Harsono meminjam uang ke bank, lalu membayar dari hasil penjualan cilok.

Uang yang dipinjam dari bank itu digunakan untuk membeli aset.

Mulai dari rumah, sawah hingga apartemen.

Sekarang, Harsono terus menggeluti usaha tersebut.

Dia mengelola perputaran uangnya agar bisnisnya terus berlangsung.

“Intinya dalam memulai usaha, harus telaten dan sabar,” ucap dia.

Dia menilai memulai bisnis tidak bisa langsung sukses.

Namun butuh proses agar sesuai dengan harapan.

“Harus bisa mengalami suka duka menekuni bisnis itu,” ucap dia.

Baca kisah viral lainnya di sini

Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved