Kabar Terbaru Kondisi Bayi Rizki DA dan Nadya Mustika, Ditempatkan di Sinar Biru, Kenapa?
Kabar terbaru, anak dari Rizki DA dan Nadya Mustika Rahayu kini sedang dirawat di boks dengan sinar biru.
Penulis: Wahyu Putri Asti Prastyawati
Editor: Ika Putri Bramasti
Reporter: Putri Asti
TRIBUNSTYLE.COM - Rizki DA nampaknya masih ngotot ingin tes DNA terhadap anak pertama sang istri, Nadya Mustika.
Padahal, wajah Rizki dan Baihaqqi Syaki Ramadhan dibilang mirip oleh netizen.
Meski begitu, Rizki mengaku kalau urusan tes DNA ini masih akan dibicarakan lagi lebih lanjut.
"Kalau untuk sementara waktu, InsyaAllah Rizki juga lagi ngobrolin itu tadi. Secara kepala dingin, Rizki nggak mau yang emosi, capek, dan segala macam," kata Rizki dilansir dari CumiCumi, Rabu (14/4/202).
Meski begitu, untuk menjalani tes DNA, ia berharap kedua belah pihak nanti memiliki keinginan yang sama.
Baca juga: POPULER Pilu Nadya Mustika Positif Covid-19 Pisah dengan Buah Hati, Apa Dampak Buruk di baliknya?
Baca juga: Rizki DA Tetap Berencana Tes DNA Bayi Nadya Mustika yang Baru Berusia 2 Hari: Penting Sama-sama Mau
"Yang penting sama-sama mau, InsyaAllah, Bismillah aja."
"Dan ke depannya akan diobrolin lagi seperti apa," lanjutnya.
Namun saat ini,, kondisi bayi Rizki yang awalnya tampak sehat justru kini dikabarkan dalam kondisi kurang sehat.
Hal ini diduga karena Rizki mengunggah foto sang bayi di akun Instagram Baihaqqi.
Rizki menunjukkan Baihaqqi ditempatkan di boks dengan sinar biru.
Biasanya, bayi baru lahir dengan kondisi semacam ini mengalami kuning karena tingkat bilirubun tinggi.
Kadar bilirubin tinggi akan memicu kulit bayi terlihat kuning.
Kondisi ini sering menyerang bayi baru lahir, karena fungsi hatinya belum berfungsi secara maksimal.
Hal ini dialami oleh bayi yang lahir prematur atau bayi yang sulit konsumsi ASI.
Sebagaimana diketahui, Nadya Mustika dikabarkan tengah positif covid-19.
Nadya harus melahirkan dengan mengikuti sejumlah protokol Covid-19.
Hinga saat ini, dirinya belum diperbolehkan bertemu buah hati tercintanya itu.
Lantaran bayinya akan rentan tertular virus Covid-19.
Kesedihan Nadya tak bisa bertemu sang buah hati ia ungkapkan di postingan Instagramnya Jumat (16/4/2021).
"Baihaqqi Syaki Ramadhan Mudah mudahan jadi anak yg sholeh yaa nak, penyejuk hati ibu sama abi doain ibu sehat yaa nak biar cpt gendong ade syakii," tulis Nadya di kolom caption dalam postingannya tersebut.
Dalam postingan tersebut, Nadya Mustika mengungkapkan harapannya agar cepat menggendong sang anak.
Baca juga: POPULER Pilu Nadya Mustika Positif Covid-19 Pisah dengan Buah Hati, Apa Dampak Buruk di baliknya?
Baca juga: Nadya Mustika Karantina Covid-19 setelah Melahirkan, Apa Dampak Bayi yang Dipisahkan dari Ibunya?
Nadya Mustika dan Riski Di tengah berbahagia atas kelahiran bayi pertama mereka pada Selasa (13/4/2021).
Namun, kebahagiaan mereka harus terganjal lantaran Nadya masih dalam kondisi positif Covid-19.
Nadya diketahui telah dinyatakan positif Covid-19 sebelum melahirkan.
Setelah melahirkan, ia pun harus menjalani karantina dan dipisahkan dari bayinya.
Nadya Mustika bahkan tidak diperbolehkan berdekatan dan menggendong bayinya untuk jangka waktu tertentu.
Sementara itu, melalui tes, sang bayi disebut negatif Covid-19.
Lantas bagaimana dampak memisahkan bayi yang baru lahir dengan ibunya?
Dampak Pemisahan Ibu dan Bayi yang Baru Lahir
Pemisahan ibu-bayi telah terjadi di beberapa negara selama pandemi, termasuk Amerika Serikat (AS), China, dan Indonesia.
Secara kumulatif, pemisahan ibu dan bayi ini bisa berdampak buruk bagi keduanya, baik mental maupun fisik.
Bagi ibu yang baru melahirkan, pemisahan dengan bayi bisa berdampak pada gangguan kecemasan.
Ketika hamil hingga melahirkan, kecemasan merupakan sesuatu yang normal.
Akan tetapi, kondisi seperti gangguan kecemasan dapat bertambah buruk dalam situasi panik lantaran berada di tengah pandemi.
Apalagi, ketika ibu baru harus dipisahkan dari anak mereka yang akhirnya lahir ke dunia.
Bukan itu saja, pemisahan tersebut juga dapat mengganggu produksi ASI dan membuat ibu baru menjadi stres.
Sebab, pengisapan ASI pertama bagi bayi mampu menstimulasi payudara dan menimbulkan respon hormonal pada ibu.
Lantas, Bagamana Seharusnya? Bayi Tidak Dipisahkan dari Ibunya?
Bayi baru lahir semestinya mendapat kontak skin to skin dengan ibu dan mendengar detak jantungnya agar bisa saling beradaptasi.
Itu menurut UNICEF, sebagaimana dilansir dari parapuan.co dalam artikel Nadya Mustika Dipisahkan dari Bayinya karena Covid, Ini Dampak Buruknya.
Nantinya, kontak ibu dan bayi ini dapat merangsang pencernaan serta merangsang pelepasan hormon untuk mendukung proses menyusui dan pengasuhan.
Kontak skin to skin juga penting lantaran mampu meningkatkan saturasi oksigen, mengurangi stres, membantu pertumbuhan, dan mempercepat pemulihan pasca persalinan.
Sebuah penelitian sebagaimana dikutip dari The Conversation, melaporkan kasus persalinan tanpa komplikasi di rumah sakit Australia pada seorang ibu yang terpapar Covid-19, tanpa perpisahan dan terus menyusui.
Hal ini senada dengan apa yang disoroti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dirilis sejak awal pandemi dan terus diperbarui secara berkala, rekomendasi WHO adalah untuk mendorong pemberian ASI dan inisiasi dini, menempatkan bayi baru lahir kulit ke kulit, dan di ruangan yang sama dengan ibu selama tinggal di rumah sakit.
Hal itu setelah bayi lahir selama pandemi Covid-19.
Pedoman WHO adalah ibu dan bayi baru lahir harus dibebaskan dari jarak atau isolasi.
Pedoman menyatakan ini aman ketika rumah sakit mematuhi tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang memadai.
Rekomendasi WHO
Berdasarkan rekomendasi dari WHO, ini sederet hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan persalinan.
- Tenaga medis wajib memakai masker N95 dan APD lengkap selama berada di sekitar ibu dan bayi.
- Ibu bayi juga mesti mengenakan masker kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan sebelum menyentuh bayinya, seperti mencuci tangan dan/atau memakai hand sanitizer.
- Membatasi orang luar yang masuk untuk menjenguk ibu dan bayi.
Penelitian baru dari John Hopkins University dan Western Sydney University menyatakan bahwa pembuat kebijakan harus mempertimbangkan dampak kumulatif dari pemisahan ibu-bayi.
(TribunStyle.com/Putri Asti/Gigih Panggayuh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/anak-rizki-da-disinar-biru.jpg)