7 Penyebab Migrain yang Jarang Diketahui, Termasuk Melewatkan Waktu Makan & Perubahan Cuaca

Inilah tujuh penyebab migrain yang jarang diketahui orang, termasuk melewatkan waktu makan dan perubahan cuaca.

7 Penyebab Migrain yang Jarang Diketahui, Termasuk Melewatkan Waktu Makan & Perubahan Cuaca
srivisista.com
Ilustrasi Migrain 

TRIBUNSTYLE.COM - Salah satu gangguan pada kepala yaitu migrain sering dialami banyak orang.

Seseorang yang menderita migrain biasanya menghindari hal-hal tertentu agar tidak kambuh.

Tapi seringkali penyebab migrain itu sendiri tidak diketahui oleh si penderita.

Bisa jadi migrain itu kambuh gara-gara kita melakukan hal-hal yang menjadi penyebabnya ini.

Agar migrain tidak sering kambuh, perhatikanlah berbagai penyebabnya berikut ini.

Mengetahui penyebab migrain dengan baik bisa membantumu untuk terhindar dari rasa sakitnya yang sangat menganggu.

Inilah tujuh penyebab migrain yang jarang diketahui banyak orang termasuk melewatkan waktu makan dan perubahan cuaca.

Migrain
Migrain (Harvard University)

 

Pil kontrasepsi

Wanita cenderung menderita migrain ketika menstruasi.

Bahkan, mereka yang sering migrain, mulai mengalaminya beberapa hari sebelum datang bulan.

Menurut dr. Brinder Vij, direktur asosiasi University of Cincinnati’s Health Headache & Facial Pain Center, perubahan estrogen memang akan memicu migrain pada wanita.

Dan untuk beberapa alasan, pil kontrasepsi hormonal membuat gejalanya lebih buruk bagi sebagian orang.

Makanan asin

Dr. Ilan Danan, ahli saraf di Center for Sports Neurology and Pain Medicine di Cedars-Sinai Kerlan-Jobe Institue, makanan asin dapat memengaruhi tekanan darah Anda.

Lebih spesifiknya, makanan asin meningkatkan jumlah natrium dalam aliran darah dan mengacaukan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan air.

Tubuh Anda meresponsnya dengan tekanan darah tinggi dan itu bisa menyebabkan migrain.

Keju

Masih belum jelas mengapa keju dapat menyebabkan migrain, namun zat tiramin yang terkandung di dalamnya, diduga  berkaitan dengan penyakit tersebut.

Meskipun begitu, menurut Vij, hasilnya bisa berbeda-beda pada setiap orang.

“Beberapa pasien bisa langsung migraine setelah makan keju, sementara yang lainnya tidak,” katanya.

Pemanis buatan

Berhati-hatilah dengan apa yang Anda masukkan ke dalam kopi.

Pemanis buatan seperti aspartam dapat menjadi pemicu migrain.

Dr. Katherine S. Carroll, ahli saraf dan migrain di Northwestern Memorial Hospital mengatakan, pemanis ini menurunkan kadar serotonin dalam tubuh seseorang yang akhirnya memicu pelepasan neuropeptida dan reaksi migrain.

Jet lag

Menurut Carroll, ini merupakan masalah besar.

Segala bentuk gangguan tidur, termasuk jet lag, dapat memicu migrain.

Tekanan udara di kabin saat penerbangan juga berpengaruh.

Itu menyebabkan pelebaran pembuluh darah yang menjadi bagian dari respons migrain.

Perubahan cuaca

Saat cuaca berganti, perubahan tekanan barometrik dan atmosfer juga terjadi – dan ini berkaitan langsung dengan migrain.

“Ini salah satu penyebab yang paling sering saya dengar dari pasien,” ujar Carroll.

Melewatkan makan

Jadwal makan yang teratur sangat penting bagi penderita migrain.

Melewatkan makan dapat menurunkan kadar gula darah dan itu menyebabkan perubahan kimiawi dalam tubuh sehingga memicu migrain. (Nationalgeographic.co.id/Gita Laras Widyaningrum)

Artikel ini telah tayang di Nationalgeographic.co.id dengan judul "Tanpa Disadari, Ketujuh Hal Berikut Dapat Menyebabkan Migrain".

 

Ilustrasi migrain.
Ilustrasi migrain. (Thinkstock)

Gen Migrain Ternyata Sudah Dimiliki Manusia Purba Sejak Dulu

Sebuah studi terbaru menemukan fakta bahwa varian genetik yang terkait dengan migrain sudah dimiliki manusia purba sejak dulu. Itu membantu mereka beradaptasi dengan cuaca dingin setelah bermigrasi ke wilayah yang suhunya lebih rendah.

Dalam 50 ribu tahun terakhir, sekelompok manusia purba meninggalkan iklim hangat Afrika dan pindah ke daerah-daerah yang lebih dingin di Eropa dan Asia, serta belahan dunia lainnya.

Studi yang dilakukan oleh Felix Key dari Max Planck Institute, menguji TRPM8, gen yang diketahui sebagai satu-satunya reseptor untuk mendeteksi suhu dan udara dingin.

“Kolonisasi ini dikaitkan dengan adaptasi genetik yang membantu manusia purba bereaksi terhadap suhu dingin,” ujar Aida Andres, yang mengawasi studi tersebut.

Para peneliti menemukan fakta bahwa varian gen tersebut semakin umum pada orang-orang yang tinggal di wilayah garis lintang tinggi selama 25 ribu tahun terakhir. Sekitar 88% nenek moyang Finlandia membawa gen tersebut. Sementara, nenek moyang Afrika hanya 5%.

Variasi genetik di Afrika masih jarang ditemukan, namun sudah lebih umum pada mereka yang berada di luar benua.

Para peneliti menganalisis data genetik dari 1200 orang-orang modern di dunia dan 79 manusia purba yang hidup antara 3000 hingga 8500 tahun lalu.

“Penelitian ini menunjukkan dengan baik bagaimana tekanan evolusi masa lalu dapat mempengaruhi fenotipe saat ini,” kata Key.

Migrain, yang dikaitkan dengan rasa nyeri yang berdenyut di salah satu sisi kepala, menyerang jutaan orang.

Beberapa faktor non-genetik bisa meningkatkan risiko migrain, termasuk lanjut usia, jenis kelamin perempuan, kadar stres yang tinggi dan rendahnya status ekonomi. Namun, penyakit ini juga termasuk keturunan.

Menurut data WHO, migrain memiliki prevalensi terendah di Afrika, dan sering terjadi di Eropa.

Di Amerika Serikat, prevalensi migrain secara konsisten lebih sering dialami penduduk keturunan Eropa-Amerika, dibanding Afrika-Amerika. (Nationalgeographic.co.id/Gita Laras Widyaningrum)

Artikel ini telah tayang di Nationalgeographic.co.id dengan judul "Gen Migrain Ternyata Sudah Dimiliki Manusia Purba Sejak Dulu".

Simak 3 Langkah Atasi Migrain Mendadak dengan Mudah, Kurangi Konsumsi Obat Anda

8 Makanan Ini Bantu Perangi Migrain, mulai Buah Ara hingga Bubuk Kayu Manis

Ikuti kami di
Editor: vega dhini lestari
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved