Heboh di Twitter dan Instagram, Ini Klarifikasi Koko Ardiansyah Soal Dirinya Gagal Jadi Paskibraka
Heboh di Twitter dan Instagram, Ini Klarifikasi Koko Ardiansyah Soal Dirinya Gagal Jadi Paskibraka
Editor: Agung Budi Santoso
Nama Koko Ardiansyah belakangan menjadi terkenal setelah videonya yang bercerita kegagalannya menjadi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskribraka) viral di media sosial.
Belakangan, video lainnya yang merekam klarifikasinya juga ramai diperbincangkan.
Di akun Instagram potretlabura, video berjudul "Klarifikasi Koko Ardiansyah, ada apa di balik semua ini?" sudah 1.420 kali tayang.
Video yang sama juga viral di akun Twitter makLambeTurah.
Dalam video berdurasi lebih dari dua menit itu Koko duduk di kursi bersebelahan dengan seseorang yang memegang rokok.
Koko mengatakan bahwa dirinya ingin mengklarifikasi semua berita yang viral dan yang sudah membuat masyarakat bersimpati kepadanya.
• Kisah Pilu Koko Ardiansyah yang Gagal Jadi Paskibra Posisinya Diserobot Anak Pejabat
• Daftar Nama Lengkap 68 Anggota Paskibraka Nasional 2019 & Daerah Asal, Siap Bertugas 17 Agustus 2019
• Kumpulan Fakta Meninggalnya Aurellia Qurratu, Aktivitas di Paskibraka Hingga Penjelasan PPI Tangsel
"Saya ingin mengklarifikasi bahwa saya di situ hanya sebagai cadangan.
Kemarin itu saya sudah tahu bahwa ada yang dikirim ke provinsi, dua orang putra.
Yang lulus hanya satu orang. yang satu lagi balik lagi ke kabupaten untuk tugas di kabupaten," katanya.
Dan, karena dirinya merupakan cadangan kedua, kata dia, maka dirinyalah yang digantikan oleh perwakilan kabupaten yang gagal dalam seleksi di tingkat provinsi itu.
"Jadi saya mengklarifikasi berita yang menambah-nambahkan kalau ibu saya mengutang untuk menjahit baju paskibra, itu bohong," katanya.
Dia juga meminta maaf kepada Dinas Pemuda dan Olahraga atas berita yang viral tersebut.
"Karena saya pun baru tahu ada dua orang yang lolos ke perwakilan kabupaten seleksi di provinsi itu yang jebol hanya satu dan saya sudah ketemu dengan Pak Kadispora bahwasanya yang menggantikan itu adalah yang gagal dalam seleksi paskibra di provinsi," katanya.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara Abyadi Siregar mengatakan, yang paling mendesak dilakukan sekarang ini adalah meminta pemerintah, baik pemerintah pusat dan Pemkab Labuhan Batu memastikan agar Koko Ardiansyah tetap ikut sebagai Paskibraka dalam upacara peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI.
Pertimbangannya, kata dia, Koko sebetulnya sudah lulus sebagai Paskibra kabupaten meski statusnya diposisikan sebagai cadangan.
Meski diposisikan sebagai cadangan, itu berarti kemampuan skil, fisik, kompetensi dan keterampilan Koko sudah memenuhi standar.
"Masalah ini sudah menjadi isu nasional dan menjadi perhatian publik yang begitu luas," katanya.
Ini adalah langkah antisipatif agar tidak berdampak negatif terhadap mentalitas Koko sebagai seorang anak. Terlebih, sudah begitu banyak perhatian publik kepada kasus ini.
Pihaknya mengapresiasi respon cepat Kemenpora menyikapi kasus ini dengan melakukan komunikasi langsung kepada Koko dalam rangka mencari solusi.
"Meminta Kemenpora tidak membiarkan masalah ini berlalu dengan begitu saja, tanpa ada langkah pengusutan.
Terkait dalam rekrutmen calon Paskibraka, agar tidak terulang lagi di Indonesia," katanya, Kamis
Menurutnya, dugaan keterlibatan bupati dalam dugaan kecurangan dalam proses rekrutmen Paskibraka di Labuhan Batu itu juga harus ditindaklanjuti.
Dengan demikian, hal itu bisa menjadi pelajaran bagi seluruh kepala daerah atau pemilik kuasa lainnya untuk tidak melakukan kekuasaannya sewenang-wenangdi berbagai hal.
"Melakukan kontrol yang ketat terhadap setiap proses rekrutmen paskibraka di seluruh Indonesia.
Kita juga meminta agar semua kepala daerah atau pemilik kuasa lainnya, jangan sesuka hatinya dalam mengambil keputusan dengan mengabaikan mekanisme dan prosedur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan," katanya.
Sementara itu, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Labuhan Batu Nanda Azhari Rambe mengatakan, pengurus Provinsi PPI Kabupaten Labuhan Batu telah berkoordinasi dengan Pengurus Pusat PPI dan Pengurus Kabupaten PPI Provinsi Sumatera Utara untuk mengklarifikasi kebenaran kabar berita yang beredar tersebut.
"Apabila ditemukan kebenaran pada kabar tersebut, maka hal itu sangatlah tidak etis, karena kami berpendapat setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi Paskibraka. Yang membedakannya adalah kemampuan dan kompetensi yang dimiliki oleh yang bersangkutan bukan status sosialnya," katanya dalam keterangan tertulisnya.
Nanda menambahkan, pihaknya sangat menyayangkan peristiwa ini karena dapat menjadi preseden buruk dalam sejarah penyelenggaraan pelatihan Paskibraka.
Oleh karena itu, pihaknya meminta Kemenpora dan Gubernur Sumatera Utara untuk memberikan perhatian khusus terhadap penyelenggaraan Kepaskibrakaan di Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, agar kejadian yang sama tidak terulang kembali di masa yang akan datang.
"Kami merekomendasikan kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Labuhan Batu untuk memberikan perhatian kepada adinda Koko Ardiansyah untuk dapat diikut sertakan ke dalam Paskibraka tahun 2019 atau 2020," katanya. (Kompas.com/ Dewantoro)
5 Fakta Paskibraka Aurellia Meninggal, Luka Lebam, Curhatan Diary, hingga Dugaan Perpeloncoan Senior
TRIBUNSTYLE.COM - Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Pasibraka) Kota Tangerang Selatan, Aurellia Qurrota meninggal dunia pada Kamis (1/8/2019).
Siswi kelas XI SMA Islam Al-Azhar BDS Serpong tersebut meninggal diduga karena kelelahan dalam latihan.
Namun sampai saat ini penyebab pasti meninggalnya Aurellia tidak diketahui.
• Fakta Meninggalnya Paskibraka Tangsel Aurellia, Disuruh Makan Kulit Jeruk, Buku Diary Jadi Petunjuk
• Misteri Meninggalnya Paskibraka Tangsel Aurellia, Tak Ada Riwayat Sakit, Luka Lebam Jadi Petunjuk
• Bukan Hanya Aurellia Qurrota Ain, Ini 6 Anggota Paskibra yang Juga Meninggal Sebelum Bertugas
Berikut 5 fakta paskibraka, Aurellia Qurrota meninggal mulai dari adanya luka lebam, curhatan di diary hingga dugaan perpeloncoan senior.
1. Tidak memiliki riwayat penyakit
Aurellia diketahui tidak memiliki riwayat penyakit.
Tubuh Aurellia Qurrota roboh di rumahnya pada pagi hari sebelum berangkat latihan Paskibra.
Aurellia lantas dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia.
"Tiba-tiba saja dia langsung roboh tadi pagi. Jatuh di rumah. Dan setelah dibawa ke rumah sakit, dia dinyatakan sudah meninggal dunia," ungkap paman Aurellia dilansir TribunStyle dari WartaKotaLive.com.
2. Luka lebam biru di tubuh Aurellia
Paman Aurellia mengungkapkan adanya luka lebam-lebam membiru di tubuh Aurellia.
Aurellia bercerita kepadanya jika dirinya pernah dipukul seniornya di Paskibra.
"Tubuhnya lebam membiru. Dia (Aurel) juga sempat cerita kalau pernah dipukul oleh seniornya di Paskibra," ucap paman Aurellia.
3. Curhatan di diary
Aurellia juga menuliskan kegiatan kesehariannya di sebuah diary 'Merah putih'.
Indra menyebut Aurellia sebelum meninggal dunia tampak pucat dan kelelahan.
Malamnya Aurellia tampak menghabiskan waktu untuk menulis di buku diary 'Merah Putih'.
"Memang kemarin dia (Aurellia) itu terlihat pucat dan kelelahan. Semalaman dia juga menulis di buku diary," katanya.
Aurellia diharuskan menulis kembali di buku diary sejak awal karena buku diary lamanya telah dirobek oleh senior di Paskibra.
"Dia menulis di buku diary sampai jam 01.00 dini hari. Dia menulis dari awal sampai akhir di buku diary yang barunya itu. Karena buku diary yang lama punya dia dirobek oleh seniornya di Paskibra," terangnya.
4. Dugaan perpeloncoan senior
Ditemukannya luka lebam biru di tubuh dan curhatan Aurellia yang mengungkap pernah dipukul oleh seniornya mengarah ke adanya dugaan perpeloncoan.
Ditambah Aurellia tidak pernah sakit selama mengikuti Diklat Paskibraka di Kota Tangsel.
Ayah Aurellia, Farid Abdurrahman (42) mengungkapkan apabila ada komplain tentang cara latihan Paskibraka para anggota justru akan diberikan latihan lebih keras lagi.
"Pernah anak saya cerita bahwa ada yang komplain, akhirnya mereka dihukum semakin berat. Itu yang membuat anak-anak takut berbicara yang sebenarnya," ucap Farid dilansir TribunStyle dari Kompas.com.
Aurellia juga mengungkapkan adanya hukuman dari senior di Paskibraka.
"Cuman dari dulu dia memang selalu bertanggung jawab, jadi dipendam sendiri baru akhirnya akhir ini cerita sedikit-sedikit ada hukuman yang berlebihan dari senior. Oknum senior bukan pelatih. Kalau pelatih pasti akan profesional," lanjut Farid.
5. Keluarga meminta kematian Aurellia dilaporkan ke kepolisian
Romi meminta agar Pemerintahan Kota Tangerang Selatan menindak lanjuti permasalahan ini.
"Saya minta kepada Dispora Tangsel usut kasus ini," ujar paman Aurellia dikutip TribunStyle dari WartaKotalive.com.
Jika tidak, keluarga Aurellia akan menempuh jalur hukum.
"Kalau tidak ditangani masalah ini, kami berencana melaporkan kepada pihak berwajib," tambahnya. (TribunStyle.com/Yuliana Kusuma)
Jangan lupa follow akun Facebook dan subscribe channel YouTube TribunStyle:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/koko-ardiansyah-gagal-paskibraka.jpg)