Bacaan Niat Puasa Syawal, Tata Cara, Waktu Melaksanakan, Ketentuan serta Keutamaannya, Lengkap!

Inilah bacaan niat puasa Syawal, tata cara, waktu melaksanakan, ketentuan hingga keutamaannya, lengkap!

Bacaan Niat Puasa Syawal, Tata Cara, Waktu Melaksanakan, Ketentuan serta Keutamaannya, Lengkap!
Instagram/@khodeenb
Ilustrasi Puasa Syawal 1440 H 

Ketentuan Puasa Syawal

Apakah puasa Syawal harus dilaksanakan selama 6 hari berturut-turut ?

Dikutip TribunStyle.com dari bersamadakwah.net dan sumber lain, puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, mulai tanggal 2 Syawal yakni sehari setelah Idul Fitri.

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan.

Dan tidaklah yang berurutan lebih utama daripada yang tidak berurutan.

Sedangkan menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal.

Berdasarkan pendapat lain, yakni Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu mengatakan, puasa enam hari di bulan Syawal boleh dikerjakan secara terpisah-pisah atau tidak berurutan, tapi lebih afdal berurutan dan langsung setelah hari raya (dikerjakan tanggal 2 – 7 Syawal).

Jadi, tidak ada madzhab yang tidak memperbolehkan puasa ini di hari lain selain tanggal 2 sampai 7, yang penting masih berada di bulan Syawal.

Namun, hendaknya tidak berpuasa khusus di hari Jum’at tanpa mengiringinya dengan puasa di hari Kamis atau Sabtu karena adanya larangan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Kesimpulannya, puasa Syawal boleh dilaksanakan tidak berurutan selama masih berada di bulan Syawal, namun yang paling utama ditunaikan berurutan sejak tanggal 2 Syawal.

Membayar Utang Puasa Ramadhan/ Qadha Dulu atau Langsung Melaksanakan Puasa Syawal?

Dikutip TribunStyle.com dari kabarmakkah.com, meskipun besarnya keutamaan puasa syawal, namun akan lebih baik jika menunaikan dahulu tanggungan atau qadha puasa Ramadhan.

Jadi, apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

Sementara itu, terdapat dua pendapat mengenai hal ini, seperti yang TribunStyle.com kutip dari bersamadakwah.net berikut ini.

Madzab Hanbali berpendapat, tidak boleh berpuasa sunnah sebelum qadha puasa Ramadhan.

Itu berarti qadha puasa Ramadhan harus diselesaikan baru menjalankan puasa sunnah.

Salah seorang ualam Hambali, Ibnu Rajab menambahkan, meskipun puasa sunnah boleh dilaksanakan sebelum qadha puasa Ramadhan diselesaikan, keutamaan seperti puasa setahun penuh tidak bisa didapatkan. Sebab dalam hadits disebutkan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim)

Pendapat kedua, umhur ulama menyatakan boleh puasa sunnah sebelum qadha puasa Ramadhan.

Sedangkan mengenai apakah keutamaan puasa Syawal seperti puasa setahun penuh, sebagian ulama berpendapat seseorang bisa mendapatkan keutamaan tersebut meskipun belum selesai qadha puasa Ramadhan.

Di antara hujjahnya, orang yang terhalang beberapa hari puasa Ramadhan karena haid, ia tetap bisa disebut telah berpuasa Ramadhan.

Selain itu, puasa Syawal telah ditentukan waktunya yang terbatas di bulan Syawal sedangkan qadha Ramadhan tidak hanya terbatas di bulan Syawal.

Mengenai kedua pendapat diatas, yang baik yakni mengqadha puasa Ramadhan terlebih dahulu lalu mengerjakan puasa sunnah di bulan Syawal sehingga keutamaannya pun bisa didapat.

Puasa Syawal.
Puasa Syawal. (Instagram/syaamil_quran)

Sangat Dianjurkan, Ini Niat Puasa Syawal & Keutamaan Melaksanakannya Selama 6 Hari

Keutamaan Puasa Syawal

Terdapat hikmah dan keutamaan bagi siapa yang melaksanakan puasa Syawal.

Untuk itu, sayang jika puasa yang sangat dianjurkan ini dilewatkan.

Berikut keutamaan puasa Syawal yang sudah TribunStyle.com rangkum dari berbagai sumber :

1. Seperti Berpuasa Setahun

Puasa 6 hari di bulan Syawal pasca Ramadhan bisa menyempurnakan pahala puasa menjadi setahun penuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dalam hadits shahih berikut ini:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim)

2. Tanda Diterimanya Puasa Ramadhan

Membiasakan puasa setelah Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan.

Jika Allah Subhanahu Wata’ala hendak menerima amalah seorang hamba, maka dia diberi taufik untuk melakukan amal saleh setelahnya.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, “Pahala kebaikan adalah kebaikan (yang dilakukan) setelahnya.”

Maka kalau ada yang berbuat kebaikan lalu berkesinambungan, maka itu sebagai tanda diterimanya kebaikan yang pertama.

Demikian juga sebaliknya jika melakukan keburukan (itu sebagai tanda bahwa amalan pertama tidak diterima).

3. Amalan Terus Berlangsung Selama Hidup

Amalan yang dilakukan seseorang di bulan Ramadhan sejatinya tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan, tapi terus berlangsung selama dia masih hidup.

Ada riwayat, “Orang yang berpuasa setelah Ramadhan itu seperti orang baru selesai dari gelanggang pertempuran di jalan Allah kemudian kembali lagi bertempur.”

Dalam hadits disebutkan, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah adalah yang ‘al-Haal al-Murtahil’ (tiap kali singgah, dia berangkat lagi) sebagaimana orang yang mengkatamkan al-Qur`an dari awal sampai akhir, kemudian dilanjut bacaannya secara berkesinambungan sampai khatam lagi.” (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian, amalnya terus berkesinambungan tidak tergantung pada mood dan moment tertentu.

4. Menyempurnakan Kekurangan dan Kekeliruan

Puasa di bulan Syawal dan Sya’ban laksana sunnah Rawatib dalam shalat wajib yang berfungsi menyempurnakan kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dalam shalat wajib.

Tidak berlebihan jika Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah pernah berkata, “Barangsiapa yang tidak bisa mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan, maka hendaknya ia puasa (sunnah setelahnya)” Karena puasa (dalam hal menebus kejelekan) menempati posisi memberi makan (zakat fitrah).

5. Mendapat Ganjaran 10 Kali Lipat

Melaksanakan puasa Syawal juga dijanjikan ganjaran 10 kali lipat bagi orang yang menjalankan puasa sunnah Syawal.

Hal itu dijelaskan dari hadist yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub yang berbunyi, "barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."

(TribunStyle/Listusista)

Yuk Subscribe Channel YouTube TribunStyle :

Like Facebook TribunStyle :

Ikuti kami di
Penulis: Listusista Anggeng Rasmi
Editor: Amirul Muttaqin
Sumber: TribunStyle.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved