Cara Melaksanakan Puasa Syawal 1440 H, Niat, Hukum, Keutamaan, Waktu & Ketentuan Lengkap

Cara melaksanakaan Puasa Syawal secara umum mirip dengan puasa Ramadhan dan puasa sunnah lainnya, tapi ada perbedaan.

Cara Melaksanakan Puasa Syawal 1440 H, Niat, Hukum, Keutamaan, Waktu & Ketentuan Lengkap
Instagram/dzulqarnainms
Puasa Syawal 1440 H. 

Jadi pahala puasa Syawal selama enam hari sama dengan berpuasa selama satu tahun penuh.

Pahala puasa Syawal ini menjadi penyempurna puasa Ramadan.

Adapun dalam beberapa sumber disebutkan bahwa pahala dan keutamaan puasa syawal ini didapatkan bagi mereka yang menyempurnakan puasa Ramadhan sebulan penuh dan telah mengqadha puasa Ramadhan jika ada yang ditinggalkan.

Bagi siapa pun yang memiliki utang puasa Ramadhan, dianjurkan untuk membayar utang puasanya terlebih dahulu.

Namun, siapa saja yang berpuasa Syawal sebelum membayar utang puasa Ramadhan, maka masih tetepa sah.

Hukum Puasa Syawal 6 Hari 1440 H, Haruskah Bayar / Qadha Utang Puasa Ramadhan Terlebih Dahulu?

Tapi, dengan syarat setelah menunaikan puasa syawal tetap membayar utang tersbeut.

Kendati demikian, beberapa ulama menganjurkan untuk mengqadha utang puasa terlebih dahulu sebelum menunaikan Puasa Syawal.

Hukum dan Waktu Puasa Syawal

Hukum Puasa Syawal adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim).

Waktu puasa syawal dilakukan selama 6 hari di bulan Syawal, dan dapat dilakukan secara acak atau tidak berurutan.

Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan.

Dan tidaklah yang berurutan lebih utama daripada yang tidak berurutan.

Sedangkan menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, puasa Syawal yang dikerjakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal lebih utama daripada tidak berurutan.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam bukunya Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, puasa Syawal boleh dikerjakan terpisah-pisah alias tidak berurutan.

Namun yang lebih afdhal (utama) adalah dikerjakan berurutan dan langsung setelah hari raya. Sebab hal itu berarti menyegerakan ibadah.

Jadi, tidak ada madzhab yang tidak memperbolehkan puasa ini di hari lain selain tanggal 2 sampai 7 Syawal, yang penting masih berada di bulan Syawal.

(TribunStyle.com / Salma Fenty)

Ikuti kami di
Penulis: Salma Fenty Irlanda
Editor: Amirul Muttaqin
Sumber: TribunStyle.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved