Wawancara Eksklusif
Jalur Indie, Era Digital, Hingga Haters dalam Perjalanan Favorit Sheila On 7
Jejak Sheila On 7 semakin mantap dengan membentuk 507 Records dan merilis single terbaru yang berjudul Film Favorit sebagai produknya di awal 2018.
Penulis: Yohanes Endra Kristianto
Editor: Yohanes Endra Kristianto
TRIBUNSTYLE.COM - Pukul setengah tiga sore, Adam Muhammad Subarkah tiba di lobi Hotel The Sunan Hotel Solo.
Sheila On 7 memang dijadwalkan akan mengisi sebuah festival musik yang digelar Sabtu (21/4/2018) malam di Stadion Manahan, Solo.
Di sela-sela kesibukannya inilah, TribunStyle.com mencoba mencari waktu untuk bisa berbincang-bincang dengan Adam.
Adam menempuh perjalanan darat dari Yogyakarta, tapi ia tidak tiba berbarengan dengan ketiga personel lainnya, Duta, Eross, dan Brian.
• Menelisik HIVI! yang Apa Adanya dan Tak Terlena dengan Kesuksesan di Masa Remaja
Saat masuk ke lobi, pemain bass Sheila On 7 ini sempat menemui beberapa orang dan dengan senang hati menerima ajakan foto dengan penggemarnya, yang memang sudah menjadi rutinitasnya sejak album perdana mereka dirilis tahun 1999.
Kini Sheila On 7 sudah merilis 8 album, belum termasuk album The Very Best dan soundtrack.
Grup ini juga sudah melalui banyak fase, termasuk dari band yang berada di label besar hingga kini memutuskan masuk ke jalur indie sejak tahun 2014.
Jejak Sheila On 7 semakin mantap dengan membentuk 507 Records dan merilis single terbaru yang berjudul Film Favorit sebagai produknya di awal tahun 2018.

Banyak yang bisa kita telisik tentang Film Favorit dan masa depan Sheila On 7 yang tampaknya masih sangat panjang.
Tak perlu lama-lama, Adam pun mengajak TribunStyle.com mencari tempat duduk yang nyaman untuk berbincang.
Selamat untuk Sheila On 7 (SO7) yang akhirnya merilis single baru, 'Film Favorit'. Apakah ini menjadi pertanda bahwa SO7 mulai meninggalkan format album dan mulai fokus merilis single aja?
Terima kasih sebelumnya, Alhamdulillah 'Film Favorit' menjadi single terbaru Sheila On 7 setelah kami jalan sebagai band indie.
Sekarang kami punya label sendiri, 507 Records, dan lagu 'Film Favorit' ini adalah produk pertamanya.
Kami adalah sebuah band yang sudah masuk di industri, tentunya kami juga mengikuti industrinya seperti apa di zaman sekarang.
Pada awalnya Sheila On 7 kan masih di zaman yang mana produk utama untuk dijual adalah kaset.
Produk kaset adalah album, jadi nggak mungkin di Indonesia waktu itu mengeluarkan kaset yang isinya cuma satu lagu.
Jadi memang industrinya caranya seperti itu. Jualan album, tapi untuk mempromosikannya kita butuh single sebagai tanda bahwa kami akan merilis sebuah album.
Single itu kemudian dilepas ke media seperti radio, tv, dan cetak.
Nah, cara itu berjalan dari kaset sampai beralih ke CD, dengan produk utama jualannya adalah album yang isinya bisa 10 lagu lebih.
Tapi setelah masuk era digital, industri mulai berubah.
Jualannya nggak perlu satu album lagi, tapi bisa ketengan.
Jadi dari satu lagu itu pun sudah bisa dijual, makanya kita mengikuti cara itu juga.
Yang biasanya keluar single cuma buat promo, sekarang keluar single bisa sekalian untuk dijual.
Jadi lebih karena kami mengikuti perkembangan dan itu bukan strategi.
Justru sekarang adalah kami keluarin lagu dan itu sudah bisa dijual di kanal digital dan bisa dilihat hasilnya.
Untuk band seperti Sheila On 7, target kami tetap sama, muaranya adalah album.
Sekarang kan anak-anak Sheila On 7 inginnya adalah keluarin satu, dua, tiga sampai lima single lalu kami tambah beberapa lagu untuk jadi satu album.
Kami juga punya pikiran bahwa dalam album itu nggak perlu 10 lagu, tapi mungkin 6-8 lagu juga udah cukup.
Toh, sekarang Sheila On 7 mau manggung aja bikin song list juga udah pusing.
Ya, itu Alhamdulillah, disyukuri bahwa ternyata pendengar menyukai Sheila On 7 nggak hanya dari hit single-nya aja, jadi keseluruhan isi album pun berkesan buat mereka.
Kalau kami ada show di suatu tempat, macem-macem tuh mintanya dan bahkan ada yang request lagu yang belum pernah kami bawakan juga.
Intinya kami lebih mengikuti perkembangan aja.
Kemarin viral banget soal kabar personel Sheila On 7 menelepon semua music director stasiun radio di Indonesia. Apakah Sheila On 7 memang masih mengutamakan promosi di radio? Tidak ingin mencoba cara lain, seperti melalui media sosial?
Sebenarnya kemarin itu sama sekali bukan sebuah gimmick atau strategi.
Seperti sudah saya sampaikan di awal, bahwa Sheila On 7 berjalan melalui label 507 Records.
Nah sampai sekarang belum ada orang-orang yang duduk di 507 Records.
Misalnya Sheila On 7 adalah sebuah perusahaan, kan harusnya di situ ada tim marketing dan sebagainya.
Nah sampai sekarang Sheila On 7 belum ada itu, makanya sampai kemarin yang menjalankan ya saya sama Duta.
Mungkin kalau saya sama Duta lagi menjalankan pekerjaan itu, maka ketika ada yang butuh interview mungkin gantian Eross yang ambil bagian, karena lokasinya di Yogyakarta.
Jadi kalau udah ada orang-orangnya di 507 Records, yang menelepon temen-temen MD adalah timnya.
Ya sebenernya bisa juga melalui koordinator MD, tapi kami ingin memperkenalkan label 507 Records itu jadi memilih cara dengan menghubungi MD secara langsung.
Karena belum ada siapa-siapa, jadi yang menelepon radio ya saya sama Duta.
Kemarin yang sempat viral itu, karena kebetulan yang menelepon Duta.
Toh, kami memperkenalkan diri juga bukan, 'Halo saya Duta Sheila On 7', kami memperkenalkan diri atas nama 507 Records.
Kami ingin mempromosikan lagu dan kalau memang pihak radio berminat kami akan mengirimkan lagunya.
Tapi akhirnya itu malah viral.
Kalau itu responnya jadi positif ya Alhamdulilah, tapi kalau itu dianggap gimmick ya terserah, tapi kami niatnya bukan gimmick.
Sheila On 7 sudah menulis banyak hit single. Pernah nggak merasa mentok atau bosen? Kepikiran untuk mencoba improvisasi dengan jam session?
Proses kreatifnya Sheila On 7 selalu berawal dari membawa sebuah materi ketika kami tiba di studio, baik materinya itu mentah atau sudah jadi demo.
Jadi lagu itu berangkatnya personal.
Misalnya Eross bawa lagu, dia mungkin sedikit punya bayangan ingin seperti apa, lalu kami aransemen bersama-sama lalu direkam.
Seiring berjalannya waktu kami juga belajar banyak dan tambah pengalaman, baik secara teknis maupun pergaulan sehingga semakin banyak yang ingin kami tuangkan.
Kami pengen sesuatu yang beda misalnya, karena itu manusiawi, semakin bertambah umur maka kami semakin bikin sesuatu yang baru.
Ini kejadian di album 'Pejantan Tangguh'
Makanya waktu itu banyak terasa perubahan musiknya Sheila On 7 di album Pejantan Tangguh.
Itu baru yang muncul di album, belum lagi demonya yang lebih absurd.
Ya, proses kreatif sebuah band atau musisi kan beda-beda, ada yang memang kumpul di studio, nge-jam, langsung nulis lagu di studio.
Kami pernah terinspirasi dan mencoba seperti itu, mencoba bikin bareng-bareng dari lagunya, dan itu terjadi di lagu yang judulnya Jalan Terus, ada di album The Very Best.
Tapi itu belum 100 persen nge-jam, kami tetap bikin masing-masing, ambil satu tema, lalu di studio kami satukan, jadi itu sebenarnya adalah campuran.
Mungkin suatu saat nanti kami akan mencoba.

Sheila On 7 sudah mencoba berbagai macam metode rekaman. Mana yang paling favorit atau ngangenin?
Itu sebenernya lebih ke piranti dan nggak terlalu mempengaruhi mood dalam mengerjakan lagu.
Digital lebih banyak membantu, kalau analog kan bener-bener pita dan itu track-nya terbatas, 24 track.
Biasanya kalau di zaman analog itu kalau memang dibutuhkan track lebih dari 24, nanti alat rekamannya jadi dua, pitanya dua jadi ada 48 track dan harus barengan, harus sinkron.
Ada juga yang ditumpuk-tumpuk di satu track, itu bisa.
Dan ada juga yang bilang analog suaranya beda dari digital dan lebih terasa arwahnya.
Sebenarnya kalau sudah jadi sebuah produk, yang bisa mendengarkan 'perbedaan suara' itu nggak semua orang.
Kalau saya bilang sih analog memang lebih ribet, mesinnya kan nggak boleh panas.
Digital itu track-nya unlimited, lebih banyak membantu musisi zaman sekarang, orang kalau mau rekaman di rumah pun bisa.
Kalau analog, wah itu mesti khusus semua, tempat untuk nyimpan pitanya khusus, mixernya khusus, nggak semua orang bisa punya karena mahal banget.
Tapi kalau sudah jadi produk, ya nggak semua orang bisa membedakan suara antara analog dan digital.
Kalau dipikir secara ekonomis itu menjadi nggak penting karena misalnya orang di rumah mau bedain ini analog atau digital itu nggak penting lah.
Toh kualitasnya sebenernya sama-sama bagus, hanya teknis kerjanya yang beda.
Sheila On 7 sudah merilis kaset dan CD. Tertarik untuk merilis vinyl?
Itu cuma masalah produk.
Jadi seperti saat kita dulu awalnya merilis kaset karena kita ada di zaman kaset, lalu tiba-tiba jadi CD, sekarang digital.
Awalnya dulu industri memang berasal dari vinyl.
Kalau keinginan sih ada, tapi itu bukan target utama.
Mungkin ada kalanya nanti bolehlah kami merilis kaset lagi atau CD atau mungkin kalau permintaannya memang banyak kami keluarkan vinyl.
Semua kemungkinan itu sekarang sangat mungkin, link-nya juga sudah banyak.
Tapi yang pasti keinginan Sheila On 7 adalah tetap ada bentuk fisiknya karena anak-anak Sheila On 7 juga penggemar karya musik.
Yang kami koleksi adalah covernya, itu tetap akan ada.
Lagu Sheila On 7 paling enak dan nggak enak buat manggung?
Ini pertanyaannya agak susah ya. Kalau dipikir enak atau nggaknya mungkin 'Berhenti Berharap' karena versi aslinya lebih enak, yang main cuma piano sama penyanyinya.
Kalau di album, bass itu cuma keluar di akhir, enak itu.
Jadi lagu-lagu yang masuk ke album itu semua anak-anak Sheila On 7 suka, semua menikmati saat memainkannya.
Apapun yang ada di song list panggung ya kami menikmati semua.
Sampai lagu Berhenti Berharap juga kami bikin versi band-nya.
Aku sih sampai sekarang belum pernah merasakan lagu ini kok nggak enak ya.
Cuma kalau anak-anak sih ada lagu yang memang susah, kalau dibawakan lebih mikir, judulnya Brilliant3x, rekamannya juga susah.

Sheila On 7 ini disebut-sebut sebagai band tanpa haters. Tapi pernah nggak sih ada satu kejadian yang membuat kalian kesal dengan netizen?
Kalau dibilang band tanpa haters sih aku nggak percaya, tapi kalau memang ada pendapat itu ya Alhamdulillah.
Saya juga merasa bahwa nggak ada yang kita lakukan yang bikin orang benci, masa sih kita seperti ini dan masih ada orang yang membenci, benci ya, bukan nggak suka.
Kalau musik itu kan sama kayak makanan, itu selera personal.
Nggak bisa kita ngomong bahwa musik ini bagus dan semua orang bakal suka, karena itu personal taste.
Sama kayak kamu suka nasi liwet Bu Wongso dibanding sama manalah.
Alasannya nggak bisa diperdebatkan karena itu selera pribadi.
Jadi kalau saya sih melihatnya, musik itu suka nggak suka.
Ada yang bilang musik ini bagus, tapi ukurannya apa?
Kalau ukurannya teknis, ya mungkin memainkannya ada yang bagus ada yang nggak.
Tapi itu juga nggak menghalangi orang suka atau nggak suka.
Dari dulu banyak band yang mainnya jelek tapi ya orang tetap suka sama lagunya.
Bagus atau nggak dan suka atau nggak itu adalah sesuatu yang tipis tapi sangat berbeda.
Kadang-kadang orang bilang musik ini idealis, atau musik itu mengikuti industri.
Bahkan ada juga yang bilang Sheila On 7 musiknya nggak idealis.
Tapi dari awal sampai sekarang, ya apalagi sekarang, dari awal sampai terakhir di Sony Music itu, Alhamdulillah kami musiknya sama sekali nggak pernah diatur.
Misalnya album pertama (Adam mengambil cover album perdana Sheila On 7), ini bukan bentukan label, ini bener-bener murni karyanya Sheila On 7 yang masih lulus SMA, masih polos-polosnya.
Bikin lagunya ya apa adanya, memainkannya ya seperti itu.
Album ini sama sekali nggak ada intervensi dari Sony Music, dari album ini sampai terakhir.
Paling mereka hanya memilih lagu yang masuk ke album karena di album ini kami stock demo hampir 20 lagu.
Bahkan ini mau jadi double album juga bisa, tapi kan nggak normal.
Kembali lagi ke haters ya saya nggak percaya kalau Sheila On 7 nggak punya haters.
Namanya orang hidup pasti ada yang suka ada yang nggak suka.
Ada yang bisa sayang ada yang bisa benci, itu selalu akan ada.
Cuma lihat orangnya aja kita bisa benci kok.
Terus kalau zaman sekarang kita bicara netizen, ya namanya mendapat komentar yang nggak enak ya wajar.
Seberapa penting sih ditanggepin, toh kita juga melakukan sesuatu yang viral.
Contohnya kemarin yang sempat viral, Duta makan mie ayam sambil duduk di bangku.
Tiba-tiba ada orang motret terus komentar bahwa Duta ternyata sangat sederhana.
Lah, aku kenal Duta tu dari dulu kali, emang dia seperti itu.
Dan kadang-kadang malah kami mikir orang tu melihat Duta sampai segitunya ya, bahwa dia superstar dan ketika makan di bangku jadi sesuatu yang harusnya nggak dia lakukan.
Itu pun nggak masalah kalau itu jadi sesuatu yang positif, ya Alhamdulillah.
Tapi kalau itu jadi sesuatu yang bikin orang nggak suka, mau gimana lagi.
Kita kan nggak bisa bikin semua orang happy, jadi ya kalau yang penting ya dibaca, kalau nggak penting ya udah biarin aja.
Toh kan namanya netizen kadang berani ngomong karena itu di media, belum tentu kalau ketemu langsung bisa seperti itu juga.
Kadang-kadang orang di dalam dunia maya itu bisa menjadi seseorang yang berbeda, dia jadi berani karena tidak menghadapi secara langsung.
• Kunto Aji dalam Tiga Babak: Ajang Pencarian Bakat, Flute, dan Misteri Nama Fans Club
• Musik Dangdut, Berlin, dan Kolaborasi Tanpa Batas Ala Sandhy Sondoro yang Kian Ciamik