Pria ini Naik Terlalu Cepat Pasca Menyelam, Tubuhnya Tiba-tiba Membengkak, Ternyata . . .

Awalnya, jika dilihat sekilas, pria satu ini terlihat seperti memiliki otot yang besar. Namun ternyata bukan itu yang sebenarnya terjadi.

Pria ini Naik Terlalu Cepat Pasca Menyelam, Tubuhnya Tiba-tiba Membengkak, Ternyata . . .
CEN
Alejandro Ramos Martinez 

TRIBUNSTYLE.COM - Peristiwa tak terduga dalam hidup bisa terjadi kapan saja.

Ya, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.

Bisa saja hari ini kamu merasa bahagia, tapi esok sudah dirundung duka.

Seorang nelayan mengalami kasus yang mengerikan setelah naik ke permukaan dari penyelamannya terlalu cepat.

Indonesia VS Filipina Piala AFF 2017 - Prediksi Starting XI dan Video Terimakasih Untuk Pak Jokowi

Pria tersebut bernama Alejandro Ramos Martinez yang berasal dari Peru, Amerika Selatan.

Alejandro adalah seorang penyelam dan biasa bekerja sebagai nelayan.

Alejandro mencari ikan dan hasil laut lainnya yang biasa digunakan untuk restoran seafood.

Awalnya, jika dilihat sekilas, pria satu ini terlihat seperti memiliki otot yang besar.

Namun ternyata bukan itu yang sebenarnya terjadi.

Alejandro Ramos Martinez
Alejandro Ramos Martinez (CEN/Cuarto Poder)

Pria tersebut tidak memiliki otot yang terbentuk dengan baik seperti para binaragawan.

Bahkan saat ini pihak medis mengatakan bahwa tubuhnya menjadi cacat.

Melansir DailyMail, Alejandro Ramos Martinez saat ini memiliki pembengkakan sekitar 5 kg pada lengannya dan dadanya.

Peristiwa ini bermula ketika dia pergi menyelam untuk mengumpulkan hewan laut di dasar laut.

Kesalahan fatalnya adalah naik melalui air terlalu cepat.

Tindakan itu menyebabkan nitrogen dalam darahnya membentuk gelembung besar yang mengerikan.

Alejandro Ramos Martinez
Alejandro Ramos Martinez (CEN/Cuarto Poder)

Nitrogen membengkak ke dalam kantung-kantung yang besar dan membuat dia menderita karena penyakit dekompresi yang ekstrem.

Gejalanya meliputi persendian bengkak, berbintik-bintik, kulit gatal, kerusakan otak, kelumpuhan, sakit kepala, batuk, pusing dan mual.

Penyakit dekompresi, yang biasanya disebabkan oleh naiknya terlalu cepat saat melakukan scuba diving, juga bisa berakibat fatal dan sangat ditakuti oleh para penyelam.

Tapi kasus Alejandro terbilang unik karena nitrogen terjebak di sekitar ototnya.

Alejandro Ramos Martinez
Alejandro Ramos Martinez (CEN/Cuarto Poder)

Alejandro saat ini sedang diberi perawatan oksigen di kamar dengan tekanan udara khusus.

Miguel Alarcon seorang dokter di rumah sakit San Juan de Dios di Pisco, Peru, mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya sejauh ini berhasil menguras sekitar 30 persen nitrogen di tubuh Alejandro.

Dokter juga terus meneliti penyakit dekompresi Alejandro karena sifatnya yang langka dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Alejandro Ramos Martinez
Alejandro Ramos Martinez (CEN/Cuarto Poder)

Mereka telah mempertimbangkan operasi untuk menghilangkan nitrogen dari tubuh Alejandro namun khawatir operasi akan terlalu sulit.

Untuk saat ini Alejandro mengalami sakit parah dan berjalan dengan susah payah karena kecelakaan itu.

Dia juga menderita hipertensi serius.

Alejandro Ramos Martinez
Alejandro Ramos Martinez (CEN/Cuarto Poder)

Pembengkakannya menjadi semakin menjadi berkat penggunaan komputer selam atau meja selam yang bisa dipakai untuk menghitung seberapa cepat mereka bisa naik.

Tak diketahui secara jelas apa yang menyebabkan Alejandro naik begitu cepat sehingga dia membengkak.

Saat ini besar kemungkinan Alejandro tidak akan bisa menyelam lagi.

35 Tahun Terpisah, Ibu Ini Akhirnya Bertemu Anaknya Sambil Menangis Anakku Masih Hidup . . .

TRIBUNSTYLE.COM - Hidup memang tak ada yang bisa menduga jalan ceritanya.

Bisa saja hari ini kita dirundung duka lara, tapi esok hari suka cita akan datang menyinari dunia.

Peristiwa tak terduga ini juga dialami oleh seorang pria bernama Paidi.

Pria asal Wonogiri, Jawa Tengah ini telah merantau ke Bengkulu sejak tahun 1982 silam.

 Agensi U-Kiss Publikasikan Video Kecelakaan di Lokasi Syuting yang Menimpa Kiseop

Paidi tak pernah menyangka bakal kembali bertemu dengan ibunya yang sudah 35 tahun lamanya terpisah.

Kisah ini dibagikan oleh akun Facebook @CekTKP pada Kamis (7/9/2017).

Selama puluhan tahun merantau di Bengkulu, Paidi tidak pernah sekali pun pulang ke kampung halamannya.

Ia bahkan tidak tahu kabar mengenai ibu dan keluarganya di sana.

Singkat cerita, Paidi kemudian dipertemukan dengan Uskub Muzamil yang kemudian mempekerjakannya sebagai tukang kebun.

"Kemaren waktu ke Jawa dakwah di bulan Agustus, saya butuh tenaga kerja untuk ke kebun, saya nyuruh temen di Bengkulu nyarikan tenaga kerja tuk bikin pagar kebun," ujar Uskub Muzamil.

Muzamil sempat bertanya kepada Paidi mengenai kondisi orangtua dan keluarganya di Wonogiri.

Tapi Muzamil kaget mendengar jawaban Paidi yang mengaku tidak tahu akan kabar keluarganya setelah puluhan tahun hidup di perantauan.

"Bahkan ibunya hidup atau matipun dia tidak tau," ujar Muzamil.

Setelah mendengar hal itu, Muzamil berinisiatif mencari tahu alamat rumah Paidi yang diketahui berada di Desa Puloharjo, Kecamatan Eromako, Wonogori, Jawa Tengah.

Setelah data keluarganya juga berhasil didapat, Muzamil kemudian menghubungi rekannya untuk mencari rumah keluarga Paidi.

"Bermodalkan (alamat) ini, saya menelpon pak Mamad Jamaah Majlis Rosho Pacitan yang memiliki percetakan dan persewaan tenda panggung yang kita gunakan panggungnya waktu Milad ke 9 Majlis Rhoso. Saya minta tolong kpd pak Mamad untuk mencarikan secepatnya alamat keluarganya pak paidi di Eromoko," ujar Muzamil.

Alhasil, rumah keluarga Paidi pun berhasil ditemukan dalam waktu tiga hari.

Setelah alamat rumah sudah terkonformasi, ada kabar lainnya yang didapat Muzamil.

Ternyata ibunda Paidi masih hidup dalam kondisi sehat!

Muzamil lantas mengajak Paidi untuk bertolak ke Wonogiri.

Akhirnya, Muzamil bersama Paidi terbang dari Bandara Fatmawati, Bengkulu menuju Bandara Adisumarmo, Solo pada Selasa (5/9/2017).

Semua ini dilakukan untuk mempertemukan Paidi dengan ibu dan sanak keluarganya.

Alhasil, pertemuan mengharukan antara seorang anak dan ibunya yang berusia kurang lebih seabad pun terjadi.

Nampak, ibunda Paidi yang sudah terlihat renta mengenakan baju berwarna hijau.

Ia tak bisa menyembunyikan keharuannya.

Sang ibu menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat putra tercintanya yang sudah 35 tahun berpisah.

"Ya ampun anakku masih hidup," ujar sang ibu dalam bahasa Jawa sambil menangis.

Terlihat pula sejumlah saudara Paidi yang juga sudah mulai menua.

Tonton video mengharukannya berikut ini:

Belum sehari beredar, video ini sudah dilihat sebanyak 16 ribu kali di Facebook.

Tak sedikit netter yang terharu bahkan menangis membaca dan melihat video tersebut.

Sakim: Sekilas aja udah paham saya maksud admin. Saya pernah mengalami hal ini.. Saya kecil ikut orang tua pindah ke sumatera setelah 20tahun balik ke jawa sampai nenek saya tidak kenal..setelah di kasih tau bahwa saya si A dia nangis kayak meluk kayak di video ini..

M Nur Azis: Alhamdulillah......mbah.....melu nangis ndelok vidione......berkah....berkah......dalan wonogiri.......alfatekhah....

Elsa Dewi Asfazekri: Ya Allah terharu nangis aku gusti

Ahmad Ridwan Al-ghofur: Suatu berkah yg amat sangat indah.

Zaid Zaidun: Haru sekali..netes air mata ini..

Rini Widy: Ya Allah sampai ikut nangis q alhamdulillah sdh ktmu...buat mase yg sdh berjasa mempertemukan keluarganya lg sy doakan njngn di beri kemudahan dlm mencari rejeki hy Allah yg bs membalasnya...terharu sy

Woro Ningrum Perbuatan baik dan niat baik seperti inilah. Yg nantinya akan dibawa sampai akirat/ bekal akirat. Melihat vidio ini saya sempat ikut menangis sedih dan terharu pada kebaikan yg dilakukan oleh sipenolong,semoga ALLAH membalasnya dengan kebaikan juga kepada seluruh keluarga si penolong.

Ikuti kami di
Penulis: Yohanes Endra Kristianto
Editor: Yohanes Endra Kristianto
Sumber: TribunStyle.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved