Breaking News:

Astaga! Ternyata Memakan Stroberi Bisa Sebabkan Kanker Hingga Mandul, 9 Tanaman Ini Berefek Sama

Stroberi menjadi salah satu buah yang paling sering kita temui dalam keseharian.

Tayang:
Penulis: Triroessita Intan Pertiwi
Editor: Dimas Setiawan Hutomo
Canadian Living
Ilustrasi 

Laporan Wartawan TribunStyle.com, Triroessita Intan Pertiwi

TRIBUNSTYLE.COM - Stroberi menjadi salah satu buah yang paling sering kita temui dalam keseharian.

Kita biasa memakannya langsung, atau menemukannya dalam berbagai olahan, seperti selai, cake, dan puding.

Selain itu stroberi juga biasa kita konsumsi dalam bentuk jus.

Tapi sayangnya sebuah penelitian terbaru mengingatkan kita untuk menghindarinya.

Dilansir TribunStyle.com melalui dailymail.co.uk, studi ini menunjukkan kalau 70% dari stroberi yang dijual di superkarket terkena pestisida.

Baca: Kentang dan 4 Buah-buahan Ini Ternyata Mampu Jadi Pereda Sakit Kepala

Baca: Wajib Tahu! Ini Makna di Balik Stiker Kecil yang Menempel pada Buah-buahan Supermarket

Baca: Kamu Sedang Hamil? Sebaiknya Jauhi Buah-Buahan Berikut Ini Girls!

Padahal pestisida sangat erat kaitannya dengan kanker, obesitas, Parkinson, diabetes dan kemandulan.

Dalam penelitian ini, stroberi masuk kedalam makanan yang paling kotor.

Data ini diambil dari Environmental Working Group's yang concern terhadap kesehatan masyarakat menengok dari lingkungan.

Selain stroberi, sayur bayam, nektarin, apel, persik, pir, ceri, anggur, seledri, tomat, paprika dan kentang juga masuk ke dalam daftar tersebut.

Untuk mengkompilasi daftar, peneliti menganalisis 48 buah dan sayuran populer berdasarkan analisis lebih dari 36.000 sampel yang diambil oleh USDA dan Food and Drug Administration.

Mereka menemukan lebih dari 98 persen dari sampel stroberi, bayam, peach, nectarine, ceri dan apel terbukti positif residu dari setidaknya satu pestisida.

Sebuah sampel tunggal stroberi menunjukkan 20 jenis pestisida berbeda.

Sedangkan sampel bayam memiliki, rata-rata, dua kali lebih banyak residu pestisida berat daripada tanaman lainnya.

Sedangkan buah dan sayuran yang sedikit terkontaminasi pestisida adalah jagung manis, alpukat, nanas, kubis, bawang, kacang polong manis beku, pepaya, asparagus, mangga, terung, melon, kiwi, melon, kembang kol dan jeruk.

Pestisida yang terdeteksi pada makanan-makanan tersebut cenderung rendah pestisida.

Stop Pakai Pewarna Rambut dan Kontrasepsi Mulai Sekarang, Kanker Ini Menghantuimu, Ladies!

Mewarnai rambut sudah menjadi tren saat ini.

Bahkan untuk sebagian orang aktivitas ini sudah dianggap sebagai kebutuhan.

Banyak figur publik yang mengganti warna rambut tiap waktu tertetu.

Baca: Awas! Gunakan Pewarna Rambut, Wajah Wanita Ini Malah Berubah Jadi Mengerikan!

Tapi sayang, ternyata kebiasaan ini memberi efek buruk untuk kesehatan, ladies.

Melansir laman Daily Mail oleh TribunStyle.com, perempuan yang mewarnai rambutnya dan atau memakai kontrasepsi memiliki risiko terkena kanker payudara lebih tinggi.

Terkena karsinogenik dalam pewarna rambut bisa memicu 23% munculnya kanker payudara.

Dalam pewarna rambut terdapat beberapa zat kimia berbahaya seperti PPD (para-phenylenediamine), Lawsone, merkuri amoniasi, peroksida, nonilfenol atau oktilfenol, dan pewarna aniline.

Ilustrasi
Ilustrasi (Kompas.com)

Selain itu pengguna kontrasepsi seperti pil dan IUS juga memiliki nasip yang sama.

Perempuan yang mengalami menopaus dengan menggunakan kontraspsi berisiko lebih besar terkena kanker ini, sekitar 52 persen.

Selain itu ada 32 persen peningkatan risiko bagi mereka yang menggunakan bekas kontrasepsi berbasis hormon, klaim peneliti Finlandia.

Dari penelitian ini juga menunjukkan kalau metode yang mengontrol hormon progesteron mengambil peran dalam resiko kanker payudara.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari University of Helsinki menggunakan data survei dari 8 ribu pasien kanker payudara.

Mereka ditanya apakah mereka menggunakan kontrasepsi hormonal atau mewarnai rambut.

Kebudian para ilmuwan ini menilai apaha benar-benar ada hubungan antara kedua faktor dari dua kal ini.

Namun, para peneliti mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan pada kedua item untuk benar-benar menilai risiko kanker payudara.

Sumber: TribunStyle.com
Tags:
TribunStyle.comDailyMail.co.uk
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved