Ini Dia 10 Cara Belajar di Jepang yang Sukses Melahirkan Orang Pintar, Ada yang Mirip Indonesia!
Orang Jepang memang dikenal dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, kesehatan yang kuat, keramahan dan kesopanan mereka.
Penulis: Dimas Setiawan Hutomo
Editor: Cecylia Rura Patulak
Laporan Wartawan TribunStyle.com, Dimas Setiawan Hutomo
TRIBUNSTYLE.COM - Orang Jepang memang dikenal dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, kesehatan yang kuat, keramahan dan kesopanan mereka.
Tapi kenapa bisa negara ini bisa menjadi begitu unik dan sangat berbeda dari banyak negara di dunia?
Baca: Dunia Makin Aneh, Di Jepang Ada Susu Kotak Rasa ASI! Minat Coba?
Ini kemungkinan ada kaitannya dengan sistem edukasi mereka yang sangat luar biasa.
Melansir dari Bright Side, TribunStyle.com akan memberikan kenapa sistem edukasi di Jepang sangat luar biasa!
1. Sikap sebelum pengetahuan
Di sekolahan Jepang, para murid tidak akan mendapatkan ujian sebelum mereka menginjak bangku kelas empat SD.
Mereka hanya akan diberikan tes kecil.
Hal ini dipercaya karena tiga tahun pertama di sekolah kemampuan anak mengenai pengetahuan tidak terlalu di nilai.
Tetapi, pada usia ini mereka ditunjukkan sikap yang baik dan membentuk karakter sang murid.
Anak-anak diajarkan untuk menghormati orang lain dan lembut dan sayang kepada alam.
Mereka juga diajarkan untuk tidak pelit, sayang dan empati terhadap sesama.
Selain itu, anak-anak ini juga diajarkan mengenai keadilan dan kontrol diri.
2. Tahun akademik dimulai pada 1 April
Saat kebanyakan sekolah dan universitas di dunia memulai kalendar akademiknya pada September atau Oktober.
Di Jepang dimulai pada April, hal ini tak hanya berlaku pada akademik tetapi juga kalendar bisnis.
Hari pertama sekolah juga sering bersinggungan dengan musim semi di Jepang yang biasanya fenomena bunga sakura bermekaran.
Tahun akademik di Jepang juga menggunakan trimester April 1 — Juli 20, September 1 — Desember 26, and Januari 7 — Maret 25.
Murid di Jepang juga mendapatkan enam minggu libur pada musim panas.
Mereka juga mendapatkan libur dua minggu pada saat musim dingin dan musim semi.
3. Kebanyakan sekolah di Jepang tidak mempekerjakan tukang bersih-bersih
Di Sekolah Jepang, murid harus membersihkan ruang kelas, kafetaria dan bahkan membersihkan toilet mereka sendiri.
Ketika waktunya bersih-bersih, murid di bagi menjadi kelompok dan dibagikan tugas yang akan dirotasi selama setahun.
Sistem edukasi Jepang percaya dengan membuat para muridnya membersihkan tersebut untuk mengajarkan mereka untuk bekerja secara tim dan membantu yang lainnya.
Selain itu juga, dengan mereka menyapu dan mengepel tersebut dapat membuat mereka menghargai hasil kerja mereka sendiri dan orang lain.
4. Di sekolah Jepang, makanan disiapkan sekolah dengan menu yang sudah distandardisasi
Sistem edukasi Jepang memastikan bahwa muridnya memakan makanan yang sehat dan seimbang.
Di SD dan SMP, makan siang dimasak berdasarkan menu yang sudah di standardisasi oleh chef berkualifikasi dan ahli kesehatan.
Selain itu, mereka juga makan bersama di kelas dengna gurunya, dengan begitu ikatan antar sesama murid dan guru bisa semakin kental.
5. Kelas tambahan sangat populer di Jepang
Untuk bisa masuk ke SMP yang bagus, kebanyakan murid di Jepang masuk ke sekolah persiapan.
Kelas tambahan ini diadakan di malam hari.
Melihat sekelompok anak kembali pada malam hari adalah hal biasa di Jepang.
Murid di Jepang memiliki 8 jam sekolah, tapi itu tidak termasuk saat mereka belajar ketika liburan dan akhir pekan.
Jadi bukan hal mengagetkan ketika disana jarang muridnya tidak naik kelas.
6. Diajarkan kaligrafi dan puisi Jepang
Kaligrafi Jepang atau Shodo, menggunakan kuas bambu yang dicelupkan ke dalam tinta untuk bisa menulis hieroglif ke kertas nasi.
Untuk masyarakat jepang, Shodo adalah seni yang juga populer selain lukis tradisioal.
Haiku, di lain pihak menjadi sebuah seni berpuisi yang menggunakan ekspresi yang sederhana tetapi memiliki emosi yang sangat dalam bagi pembaca.
Kedua kelas ini mengajarkan kepada para murid untuk menghormati budaya dan tradisi mereka sendiri.
7. Hampir seluruh sekolah menggunakan seragam
Hampir seluruh sekolah harus menggunakan seragam.
Walau ada yang memiliki seragam sendiri, tetapi pakaian tradisional sekolah Jepang adalah yang bergaya militer untuk pria dan pelaut bagi wanita.
Kebijakan seragam ini dilakukan untuk menghilangkan dinding sosial diantara para murid.
Selain itu juga, menggunakan seragam dapat menumbuhkan rasa kebersamaan diantara para murid.
8. Tingkat kehadiran di Jepang adalah 99,99%
Kemungkinan dari kita pernah setidaknya sekali membolos sekolah.
Tetapi di Jepang para muridnya jarang membolos dan mereka juga tak pernah telat.
Sekitar 91% murid di Jepang dilaporkan tidak pernah atau hanya beberapa kelas, mengabaikan apa yang diajarkan oleh sang guru.
9. Sebuah tes memutuskan masa depan si murid
Di akhir SMA, murid di Jepang harus melalui sebuah ujian yang sangat penting bagi masa depannya.
Murid dapat memilih satu kampus yang ingin ia datangi untuk melanjutkan pendidikan dan kampus tersebut memiliki nilai minimal untuk bisa masuk.
Jika seorang murid tidak mendapatkan nilai tersebut, kemungkinan mereka tidak kuliah.
Kompetisinya sangat tinggi, hanya 76% murid yang kemungkinan bisa melanjutkan edukasi formal setelah SMA.
Jadi wajar saja jika persiapan yang dilakukan mereka untuk masuk kuliah sangat menyiksa, bahkan ujian ini disebut sebagai "ujian neraka."
10. Kehidupan perkuliahan adalah waktu liburan terbaik dalam hidup seseorang
Setelah melalui ujian neraka, murid di Jepang biasanya istirahat sejenak.
Nah, kehidupan perkuliahan inilah dianggap sebagai waktu liburan terbaik bagi mereka.
Terkadang masyarakat Jepang menganggap ini adalah "liburan" sebelum masuk ke dunia kerja. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/murid-di-jepang_20170213_181127.jpg)