Tak Cuma Buat Bergaya, Lensa Kontak Dikembangkan Untuk Jadi Pendeteksi Kanker Lho!

Mereka optimis, lensa kontak yang mampu memberitahu kadar gula darah, kesehatan organ-organ, hingga gejala kanker dapat segera terwujud.

Tak Cuma Buat Bergaya, Lensa Kontak Dikembangkan Untuk Jadi Pendeteksi Kanker Lho!
Alodokter
Ilustrasi. 

TRIBUNSTYLE.COM - Kini, ilmuwan sedang mengembangkan lensa kontak pendeteksi kanker, mengingat jumlah penderita kanker kian memuda dan jumlahnya pun bertambah.

Para peneliti dari Oregon State University kini sedang menggunakan teknologi transistor ultra-tipis untuk membuat skrining kesehatan lewat lensa kontak menjadi kenyataan.

Mereka optimis, lensa kontak yang mampu memberitahu kadar gula darah, kesehatan organ-organ, hingga gejala kanker dapat segera terwujud.

Kamu Suka Dibohongin Cowok? Deteksi Ketidakjujurannya Lewat 10 Bahasa Tubuh Ini, Girls!

Gregory Herman, seorang profesor teknik kimia, mengepalai sebuah tim yang sudah mengembangkan biosensor transparan yang dapat mendeteksi berbagai kondisi kesehatan.

Menurut Herman, prototipe lensa kontak saat ini hanya dapat mendeteksi kadar glukosa darah.

Tetapi tim percaya bahwa mereka dapat mengembangkan teknologi yang sudah ada untuk mendiagnosa kondisi kesehatan lebih dalam.

“Ada cukup banyak informasi yang dapat dipantau dari tetesan air mata,” kata Herman.

“Tentu saja, ada glukosa, tetapi juga laktat (pendeteksi sepsis serta penyakit hati), dopamin (glaukoma), urea (fungsi ginjal), dan protein (kanker)."

Ilustrasi
Ilustrasi (liphook-eyecare.com)

Tujuan kami adalah untuk memperluas dari sensor tunggal untuk beberapa sensor kesehatan.

Kini, para peneliti sedang menguji keamanan dan efektivitas lensa kontak pada hewan yang memakan waktu sekitar satu tahun.

Sebenarnya sudah ada elektroda yang dapat ditanam di bawah kulit untuk menguji gula darah, tetapi mereka dapat menyebabkan iritasi dan infeksi.

Sedangkan lensa kontak bisa menjadi lebih aman dan kurang intrusif. Dan sensor yang mengukur glukosa bisa menjadi salah satu dari banyak sensor kesehatan.

Tim Herman menyajikan temuan mereka April ini di pertemuan American Chemical Society. (Kompas.com/Bestari Kumala Dewi)

Ikuti kami di
Editor: Diah Ana Pratiwi
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About us
Help